BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Teh
adalah minuman yang dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat. Teh memiliki
kandungan kafein didalamnya. Kafein memiliki efek positif dan negatif. Efek
positifnya adalah dapat bertindak sebagai antioksidan dalam tubuh. Akan tetapi,
jika kandungan kafein dalam teh terlalu banyak, kafein dapat bertindak sebagai
racun dalam tubuh. Sebab itu, kadar kafein perlu diketahui dengan pasti di
dalam teh. Penentuan kadar kafein ini dapat menggunakan cara ekstraksi.
Ekstraksi
adalah proses pemisahan suatu zat dari campurannya dengan membagi sebuah zat
terlarut diantara dua pelarut. Hal ini dilakukan untuk mengambil zat terlarut
tersebut dari satu pelarut ke pelarut lain.
Ekstraksi merupakan proses pemisahan yang
paling sederhana dan ekonomis.Aplikasi ekstraksi dalam bidang industri adalah
penentuan kadar kafein dalam produksi teh kering. Selain itu, dalam pembuatan
ester untuk essence pada sirup dan
penentuan kadar kafein dalam produksi kopi. Oleh karena itu, ekstraksi adalah
proses yang sangat penting dalam dunia industri.
1.2.Tujuan
Menentukan Kadar Kafein dalam sampel
teh.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teh
Teh adalah minuman yang mengandung
kafein, sebuah infusi yang dibuat dengan cara menyeduh daun, pucuk daun, atau
tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia sinensis dengan air panas.
Teh yang berasal dari tanaman teh dibagi menjadi 4 kelompok: teh hitam, teh
oolong, teh hijau, dan teh putih.Istilah "teh" juga digunakan untuk
minuman yang dibuat dari buah, rempah-rempah atau tanaman obat lain yang
diseduh, misalnya, teh rosehip, camomile, krisan dan Jiaogulan. Teh yang tidak
mengandung daun teh disebut teh herbal. Teh merupakan sumber alami kafein,
teofilin dan antioksidan dengan kadar lemak, karbohidrat atau protein mendekati
nol persen. Teh bila diminum terasa sedikit pahit yang merupakan kenikmatan
tersendiri dari teh. Teh bunga dengan campuran kuncup bunga melati yang disebut
teh melati atau teh wangi melati merupakan jenis teh yang paling populer di
Indonesia. Konsumsi teh di Indonesia sebesar 0,8 kilogram per kapita per tahun
masih jauh di bawah negara-negara lain di dunia, walaupun Indonesia merupakan
negara penghasil teh terbesar nomor lima di dunia. (Wikipedia bahasa Indonesia
2011)
Tanaman teh berasal dari
negara China, dapat tumbuh didaerah tropis dan subtropics, seperti india,
srilanka, Kenya, Argentina, Turki, dan masuk ke Indonesia pada tahun 1960
(Leung 1980).
Teh merupakan bahan
minuman yang secara universal dikonsumsi dibanyak negara serta diberbagai
lapisan masyarakat.Teh memiliki beberapa jenis, diantaranya Teh hijau, teh
putih, teh hitam, dan teh oolong (Tuminah 2004).
Teh dibuat dalam berbagai
kemasan diantaranya :
1.
Teh
celup
Teh dikemas dalam kantong kecil yang biasanya dibuat
dari kertas dengan tali. Teh celup sangat populer karena praktis untuk membuat
teh, tapi pencinta teh kelas berat biasanya tidak menyukai rasa teh celup.
2.
Teh
saring
Teh dikemas dalam kantong kecil yang biasanya
dibuat dari kertas tanpa tali. Teh saring sangat populer karena praktis untuk
membuat teh dalam quantity banyak dan menghasilkan lebih pekat dibandingkan teh
celup.
3.
Teh
seduh (daun teh)
Teh dikemas dalam kaleng atau dibungkus
dengan pembungkus dari plastik atau kertas. Takaran teh dapat diatur sesuai
dengan selera dan sering dianggap tidak praktis. Saringan teh dipakai agar teh
yang mengambang tidak ikut terminum. Selain itu, teh juga bisa dimasukkan dalam
kantong teh sebelum diseduh. Mangkuk teh bertutup asal Tiongkok yang disebut
gaiwan dapat digunakan untuk menyaring daun teh sewaktu menuang teh ke mangkuk
teh yang lain.
4.
Teh
yang dipres
Teh dipres agar padat untuk keperluan penyimpanan
dan pematangan. Teh pu erh dijual dalam bentuk padat dan diambil sedikit demi
sedikit sewaktu mau diminum. Teh yang sudah dipres mempunyai masa simpan yang
lebih lama dibandingkan daun teh biasa.
5.
Teh
stik
Teh dikemas di dalam stik dari lembaran
aluminium tipis yang mempunyai lubang-lubang kecil yang berfungsi sebagai
saringan teh.
6.
Teh
instan
Teh berbentuk bubuk yang tinggal dilarutkan
dalam air panas atau air dingin. Pertama kali diciptakan pada tahun 1930-an
tapi tidak diproduksi hingga akhir tahun 1950-an. Teh instan ada yang mempunyai
rasa vanila, madu, buah-buahan atau dicampur susu bubuk.(Wikipedia bahasa
Indonesia 2011)
2.2 Kafein
Kafein adalah kristal putih alkaloida
xantina yang pahit, yang merupakan obat stimulan psychoactive. Alkaloid adalah
senyawa organik mirip alkali yang mengandung atom nitrogen yang bersifat basa
dalam cincin heterosiklik. Kafein ditemukan di dalam berbagai macam jenis
kacang-kacangan, dedaunan, dan buah dari berbagai tanaman. Kafein juga
bertindak sebagai suatu pestisida alami yang mengusir dan membunuh
serangga-serangga tertentu yang hidup di tanaman tersebut. Kafein paling sering
dikonsumsi oleh manusia dari ekstraksi biji buah kopi dan daun teh, seperti
juga berbagai makanan dan minuman yang berbahan dasar buah kola. Pada manusia,
kafein adalah suatu stimulan sistem saraf pusat (CNS, Central Nervous System),
mempunyai pengaruh temporer untuk menghindari terhadap kantuk dan juga
memulihkan keadaan siaga.
Hidangan-hidangan yang mengandung
kafein, seperti kopi, teh, minuman tanpa alkohol, dan minuman berenergi,
mendapat ketenaran yang luas. Kafein mempunyai efek diuretik, setidaknya ketika
diberikan dalam dosis tertentu kepada subjek yang tidak mempunyai toleransi
padanya. Para pemakai reguler, bagaimanapun, telah mengembangkan suatu
toleransi yang kuat pada efek ini dan studi secara umum tidak dapat membuktikan
dugaan umum bahwa mengkonsumsi hidangan yang mengandung kafein berkontribusi
secara signifikan terhadap dehidrasi. sehingga kadar kafein pada suatu minuman
perlu dilakukan.
2.3 Ekstraksi
Ekstraksi
adalah suatu produk pemisahan suatu zat dari campuran nya dengan pembagian
sebuah zat terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat tercampur untuk
mengambil zat terlarut tersebut dari satu pelarut ke pelarut yang lain.
Seringkali campuran bahan padat dan cair tidak dapat atau sukar sekali
dipisahkan dengan metode pemisahan mekanis atau termis yang telah dibicarakan.
Misalnya, komponen bercampur sangat erat, peka terhadap panas, beda sifat-sifat
fisiknya terlalu kecil atau tersedia dalam konsentrasi yang telalu rendah.
Dalam hal semacam itu, seringkali ekstraksi adalah satu-satunya proses yang
dapat digunakan atau yang paling ekonomis. Sebagai contoh pembuatan ester untuk
essence pada sirup, pengambilan
kafein dari daun teh dan pelarutaan komponen-komponen kopi dengan menggunakan
air panas. Saat ekstraksi, larutan ekstrak yang tercemar harus dibersihkan.
Suatu pelarut yang digunakan sedapat mungkin memiliki kemampuan melarutkan
ekstrak yang besar, sehingga kebutuhan pelarut lebih sedikit.
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan tempat
Praktikum tentang penentuan kandungan
kafein dalam sampel dengan cara titrasi iodium
ini dilakukan di Laboratorium Politeknik Tanah Laut pada hari Jumat, 18
Nopember 2011 pada pukul 08.00 – 10.00 WITA.
3.2. Alat dan Bahan
·
Alat
1.
Gelas
beker
2.
Erlenmeyer
3.
Labu
takar
4.
Gelas
arloji
5.
Neraca
analitik
6.
Batang
pengaduk
7.
Hotplate
8.
Boret
9.
Corong
kaca
10. Kertas saring
·
Bahan
1.
Natrium
thiosulfat
2.
Kalium
dikromat
3.
HCl
pekat
4.
Kl
5.
Larutan
iodium
6.
Alkohol
7.
H2SO4
8.
Akuades
3.3.
Prosedur kerja
§ Timbang 2,5 gr teh kering.
§ Masukan dalam gelas beker 250 ml.
§ Tambahkan air 100 ml dan didihkan
selama 30 menit kemudian saring.
§ Filtrat diuapkan hingga volume
nyasekitar 20 ml.
§ Dinginkan dan masukkan dalam labu
takar 100 ml.
§ Tambahkan 25 ml alkohol.
§ Kocok labu selama 10 menit.
§ Tambahkan 5 ml H2SO4 10% serta 20 ml
larutan iodium 0,1 N.
§ Encerkan dengan akuades hingga tanda
batas.
§ Pipet 20 ml larutan dan masukkan dalam
Erlenmeyer.
§ Tambahkan 3 tetes larutan amilum.
§ Titrasi dengan natrium thiosulfate
hingga warna biru hilang.
§ Untuk sampel cair, masukkan 100 ml
sampel ke dalam gelas beker 250 ml.
§ Uapkan hingga volumenya menjadi 20 ml.
§ Dinginkan dan masukkan dalam labu
takar 100 ml.
§ Tambahkan 25 ml alcohol.
§ Kocok labu selama 10 menit.
§ Tambahkan 20 ml H2SO4 10% serta 20 ml
larutan iodium 0,1 N.
§ Encerkan hingga tanda batas.
§ Pipet 20 ml larutan dan masukkan dalam
Erlenmeyer.
§ Tambahkan 3 tetes larutan kanji.
§ Titrasi dengan natrium thiosulfate
hingga warna biru hilang.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
1.
Percobaan
1 : Teh Kotak : 10ml titrasi = dari coklat kehitaman warna coklat
2.
Percobaan
2 : The Kotak : 7 ml titrasi =dari
coklat kehitaman warna coklat muda
3.
Percobaan
3 : Teh Kering : hampir 20ml titrasi = warna tetap coklat kehitaman
·
Percobaan
1
·
Kadar
Kafein =
·
Kadar
Kafein =
·
Kadar
Kafein = 0,0485 %
·
Percobaan
2
·
Kadar
Kafein = =
·
Kadar
Kafein =
·
Kadar
Kafein = 0,063 %
·
Percobaan
3
·
Kadar
Kafein = =
·
Kadar
Kafein =
·
Kadar
Kafein = 0,194 %
4.2. Pembahasan
Pada praktikum kali ini didapat kan
hasil kadar kafein di teh cair 0,0485% dan 0,063 % sedangkan di teh kering
sebesar 0,194% , kadar yang lebih tinggi dari pada tehcair. Pada saat titrasi
larutan tidak dapat berubah menjadi warna biru seperti yang diinginkan dikarenakan
kadar air yang terkandung dalam cairan teh terlalu tinggi sehingga
hasil yang didapat kurang akurat.
Crude kafein yang didapat dari
percobaan ini dibawah 1% . Kadar ini lebih kecil dari kadar kafein dalam teh
secara teoritis yaitu 2%-5%. Hal ini dikarenakan teh yang digunakan untuk uji
coba bukanlah teh murni tetapi telah dicampur dengan zat-zat lain oleh produsen
dan kemungkinan adanya kafein yang tidak terlarut sempurna khususnya .
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
1.
Ekstraksi
adalah mengambil suatu zat terlarut dari dalam larutan air oleh suatu pelarut
yang tak dapat campur dengan air sehingga dapat dipisahkan.
2.
Kadar
kafein dari daun teh dibawah 1%.
5.2. Saran
·
Pada
saat proses praktikum berlangsung hendaklah cara kerja praktikum tersebut
dipahami dengan baik agar praktikum tersebut berjalan dengan baik dan tidak ada
kekeliruan yang berdampak kesalahan pada hasil
maaf bisa tolong jelaskan cara perhitungan nya?
BalasHapusMaaf, bisa diberitahu sumbernya darimana? Dan siapa penyusunnya?
BalasHapus