Minggu, 02 Februari 2014

Penentuan Kadar Vitamin C



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Vitamin dikenal sebagai suatu kelompok senyawa organik yang tidak termasuk dalam golongan karbohidrat, protein, maupun lemak, dan terdapat dalam jumlah yang kecil dalam bahan makanan tetapi sangat penting peranannya bagi beberapa fungsi tertentu tubuh untuk menjaga kelangsungan hidup serta pertumbuhan.Vitamin tidak memberikan kalori dan tidak ikut menyusun jaringan tubuh tetapi memberikan fungsi yang spesifik dalam tubuh. Vitamin tersebut umumnya dapat dikelompokan ke dalam 2 golongan utama yaitu vitamin yang larut dalam lemak yang meliputi A, D, E, K dan vitamin yang larut dalam air yang terdiri dari vitamin C dan B.Vitamin A (retinol) terutama terdapat pada minyak ikan, hati, kuning telur, mentega dan krim. Sayuran berdaun hijau dan sayuran berwarna kuning mengandung karoten (misalnya beta karoten), yang secara perlahan akan diubah oleh tubuh menjadi vitamin A. Dalam kebanyakan titrasi langsung dengan iod (iodimetri), digunakan suatu larutan iod dalam kalium iodida, dan karena itu spesi reaktifnya adalh ion tri-iodida, I3-. Untuk tepatnya, semua persamaan yang melibatkan reaksi-reaksi iod seharusnya ditulis dengan I3- dan bukan dengan I2.Warna larutan 0,1 N iodium adalah cukup kuat sehingga iodium dapat bekerja sebagai indikatornya sendiri. Iodium juga memberi warna ungu atau merah lembayung yang kuat kepada pelarut-pelarut sebagai karbon tetraklorida atau kloroform dan kadang-kadang hal ini digunakan untuk mengetahui titik akhir titrasi.Akan tetapi lebih umum digunakan suatu larutan (dispersi koloidal) kanji, karena warna biru tua dari kompleks kanji-iodium dipakai untuk suatu uji sangat peka terhadap iodium.Kepekaan lebih besar dalam larutan yang sedikit asam daripada larutan netral dan lebih besar dengan adanya ion iodide.
1.2 Tujuan Praktikum
Menentukan kandungan vitamin C dalam sampel dengan cara titrasi iodium.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Vitamin C
Vitamin C adalah salah satu jenis vitamin yang larut dalam air dan memiliki peranan penting dalam menangkal berbagai penyakit.Vitamin ini juga dikenal dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat.Vitamin C termasuk golongan vitamin antioksidan yang mampu menangkal berbagai radikal bebas ekstraselular.Beberapa karakteristiknya antara lain sangat mudah teroksidasi oleh panas, cahaya, dan logam.Buah-buahan, seperti jeruk, merupakan sumber utama vitamin ini.
Vitamin C berhasil diisolasi untuk pertama kalinya pada tahun 1928 dan pada tahun 1932 ditemukan bahwa vitamin ini merupakan agen yang dapat mencegah sariawan.Albert Szent-Györgyi menerima penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1937 untuk penemuan ini.Selama ini vitamin C atau asam askorbat dikenal perananny dalam menjaga dan memperkuat imunitas terhadap infeksi.Pada beberapa penelitian lanjutan ternyata vitamin C juga telah terbukti berperan penting dalam meningkatkan kerja otak.Dua peneliti di Texas Woman's University menemukan bahwa murid SMTP yang tingkat vitamin C-nya dalam darah lebih tinggi ternyata menghasilkan tes IQ lebih baik daripada yang jumlah vitamin C-nya lebih rendah.
Vitamin C diperlukan untuk menjaga struktur kolagen, yaitu sejenis protein yang menghubungkan semua jaringan serabut, kulit, urat, tulang rawan, dan jaringan lain di tubuh manusia. Struktur kolagen yang baik dapat menyembuhkan patah tulang, memar, pendarahan kecil, dan luka ringan.
Buah jeruk, salah satu sumber vitamin C terbesar.Vitamin c juga berperan penting dalam membantu penyerapan zat besi dan mempertajam kesadaran.Sebagai antioksidan, vitamin c mampu menetralkan radikal bebas di seluruh tubuh.Melalui pengaruh pencahar, vitamini ini juga dapat meningkatkan pembuangan feses atau kotoran. Vitamin C juga mampu menangkal nitrit penyebab kanker. Penelitian di Institut Teknologi Massachusetts menemukan, pembentukan nitrosamin (hasil akhir pencernaan bahan makanan yang mengandung nitrit) dalam tubuh sejumlah mahasiswa yang diberi vitamin C berkurang sampai 81%,hasil ini masih dipertanyakan, tetapi pada penelitian terbaru kelebihan dosis vitamin c justru menyebabkan perubahan sel yang bisa mengakibatkan kanker.

Hipoaskorbemia (defisiensi asam askorbat) bisa berakibat keadaan pecah-pecah di lidah scorbut, baik di mulut maupun perut, kulit kasar, gusi tidak sehat sehingga gigi mudah goyah dan lepas, perdarahan di bawah kulit (sekitar mata dan gusi), cepat lelah, otot lemah dan depresi.Di samping itu, asam askorbat juga berkorelasi dengan masalah kesehatan lain, seperti kolestrol tinggi, sakit jantung, artritis (radang sendi), dan pilek.
Kebutuhan vitamin C memang berbeda-beda bagi setiap orang, tergantung pada kebiasaan hidup masing-masing. Pada remaja, kebiasaan yang berpengaruh di antaranya adalah merokok, minum kopi, atau minuman beralkohol, konsumsi obat tertentu seperti obat antikejang, antibiotik tetrasiklin, antiartritis, obat tidur, dan kontrasepsi oral.Kebiasaan merokok menghilangkan 25% vitamin C dalam darah. Selain nikotin senyawa lain yang berdampak sama buruknya adalah kafein. Selain itu stres, demam, infeksi, dan berolahraga juga meningkatkan kebutuhan vitamin C. Pemenuhan kebutuhan vitamin C bisa diperoleh dengan mengonsumsi beraneka buah dan sayur seperti jeruk, tomat, arbei, stroberi, asparagus, kol, susu, mentega, kentang, ikan, dan hati.
Istilah oksidasi mengacu pada setiap perubahan kimia dimana terjadi kenaikan bilangan oksidasi, sedangkan reduksi digunakan untuk setiap penurunan bilangan oksidasi.Berarti proses oksidasi disertai hilangnya elektron sedangkan  reduksi memperoleh elektron. Oksidator adalah senyawa di mana atom yang terkandung mengalami penurunan bilangan oksidasi.Sebaliknya pada reduktor, atom yang terkandung mengalami kenaikan bilangan oksidasi. Oksidasi-reduksi harus selalu berlangsung bersama dan saling menkompensasi satu sama lain. Istilah oksidator reduktor mengacu kepada suatu senyawa, tidak kepada atomnya saja (Khopkar, 2003).
Oksidator lebih jarang ditentukan dibandingkan reduktor.Namin demikian, oksidator dapat ditentukan dengan reduktor. Reduktor yang lazim dipakai untuk penentuan oksidator adalah kalium iodida, ion titanium(III), ion besi(II), dan ion vanadium(II). Cara titrasi redoks yang menggunakan larutan iodium sebagai pentiter disebut iodimetri, sedangkan yang menggunakan larutan iodida sebagai pentiter disebut iodometri (Rivai, 1995).
Dalam proses analitik, iodium digunakan sebagai pereaksi oksidasi (iodimetri) dan ion iodida digunakan sebagai pereaksi reduksi (iodometri). Relatif beberapa zat merupakan pereaksi reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi secara langsung dengan iodium.Maka jumlah penentuan iodimetrik adalah sedikit. Akan tetapi banyak pereaksi oksidasi cukup kuat untuk bereaksi sempurna dengan ion iodida, dan ada banyak penggunaan proses iodometrik. Suatu kelebihan ion iodida ditambahkan kepada pereaksi oksidasi yang ditentukan, dengan pembebasan iodium, yang kemudian dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat.Reaksi antara iodium dan tiosulfat berlangsung secara sempurna (Underwood, 1986).
Iodium hanya sedikit larut dalam air (0,00134 mol per liter pada       25 0C), tetapi agak larut dalam larutan yang mengandung ion iodida.  Larutan iodium standar dapat dibuat dengan menimbang langsung iodium murni dan pengenceran dalam botol volumetrik.Iodium, dimurnikan dengan sublimasi dan ditambahkan pada suatu larutan KI pekat, yang ditimbang dengan teliti sebelum dan sesudah penembahan iodium.Akan tetapi biasanya larutan distandarisasikan terhadap suatu standar primer, As2O3 yang paling biasa digunakan.(Underwood, 1986).
Larutan standar yang dipergunakan dalam kebanyakan proses iodometrik adalah natrium tiosulfat. Garam ini biasanya tersedia sebagai pentahidrat Na2S2O3.5H2O.Larutan tidak boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung, tetapi harus distandarisasi terhadap standar primer.Larutan natrium tiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama.Sejumlah zat padat digunakan sebagai standar primer untuk larutan natrium tiosulfat.Iodium murni merupakan standar yang paling nyata, tetapi jarang digunakan karena kesukaran dalam penanganan dan penimbangan. Lebih sering digunakan pereaksi yang kuat yang membebaskan iodium dari iodida, suatu proses iodometrik (Underwood, 1986).
Warna larutan 0,1 N iodium adalah cukup kuat sehingga iodium dapat bekerja sebagai indikatornya sendiri. Iodium juga memberi warna ungu atau merah lembayung yang kuat kepada pelarut-pelarut sebagai karbon tetraklorida atau kloroform dan kadang-kadang hal ini digunakan untuk mengetahui titik akhir titrasi.Akan tetapi lebih umum digunakan suatu larutan (dispersi koloidal) kanji, karena warna biru tua dari kompleks kanji-iodium dipakai untuk suatu uji sangat peka terhadap iodium.Kepekaan lebih besar dalam larutan yang sedikit asam daripada larutan netral dan lebih besar dengan adanya ion iodida (Underwood, 1986).








BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum tentang penentuan kandungan vitamin C sampel dengan cara titrasi iodium ini dilakukan di Laboratorium Politeknik Tanah Laut pada hari Jumat, 18 Nopember 2011 pada pukul 08.00 – 10.00 WITA.
3.2 Alat dan Bahan
-       Alat:
·         Gelas beker
·         Hotplate
·         Kaca Arloji
·         Montar
·         Labu Erlenmeyer
·         Pipet
·         Neraca Analotik
·         Buret
·         Pipet volume
-       Bahan:
·         aquades
·         Vitamin C
·         Pulpy orange
·         iodine
·         amilum
·         H2SO4


3.3 Prosedur Kerja
1.    penentuan vitamin C dalam tablet
-       panaskan aquades hingga mendidih, kemudian dinginkan.
-       Masukkan 50ml aquades kedalam beker yang ada vitamin C.
-       Pipet sebanyak 5ml kedalam Erlenmeyer.
-       Tambahkan 3ml H2SO4.
-       Segera tambahkan iodine 10ml.
-       Tambahkan 3 tetes amilum.
-       Titrasi hingga warna biru hilang ( volume 32,3 ) menggunakan tiosulfat.
2.    Penentuan  Kadar  vitamin C dalam minuman pulpy orange
-       Ambil 20ml pulpy orange pipet kedalam Erlenmeyer.
-       Tambahkan 3ml H2SO4 2N.
-       Segera tambahkan 10ml iodine 0,1N.
-       3 tetes amilum ditambahkan ( volume awal
-       Titrasi dengan tiosulfat ( volume





















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Hasil titrasi pada kadar vitamin C tablet, masing-masing kelompok:
  ü   Kelompok IV = 6,4 – 4,6 = 1,8
  ü   Kelompok V = 10,2 – 8,0 = 2,2
  ü   Kelompok VI = 11,8 – 10,2 = 1,6
Jadi rata-rata volume titrasi =
·         Kadar vitamin C (%) =x 100
·         Kadar vitamin C (%)=x 100
·         Kadar vitamin C (%) = 16,37 %

Hasil titrasi pada kadar vitamin C Pulpy orenge, masing-masing kelompok:
  ü   Kelompok I = 25,9 – 23 = 2,9
  ü   Kelompok II = 29,7 – 25,9 = 3,8
  ü   Kelompok III = 32,3 – 29,7 = 2,6
Jadi rata-rata volume titrasi =
·         Kadar vitamin C (%) =x 100
·         Kadar vitamin C (%)=x 100
·         Kadar Vitamin C (%) = 136,4%

4.2 Pembahasan
Praktikum analisa kuantitatif vitamin C dalam sample dilakukan dengan menggunakan metode titrasi iodimetri (titrasi langsung) hal ini berdasarkan bahwa sifat vitamin C dapat bereaksi dengan iodin Penentuan ini dilakukan dengan menggunakan larutan  0,1 N sebagai titrant.
Sample yang dipergunakan saat praktikum adalah minuman sari buah dalam kemasan yang banyak dijual di pasaran dengan merk dagang pulpy orange dan vitacimin.
Vitamin C atau asam bersifat larut dalam air dan sedikit larut dalam aseton atau alkohol yang mempunyai berat molekul rendah.Akan tetapi vitamin C sukar larut dalam pelarut organic yang pada umumnya dapat melarutkan lemak.
Titrasi iodimetri dilakukan dengan menggunakan amilum sebagai indikator.Seperti yang sudah diketahui bahwa prinsip dari titrasi iodimetri adalah reduksi analat oleh I2 menjadi I-.
ARed + I2 Aoks + I-
Iod merupakan oksidator yang tidak terlalu kuat, sehingga hanya zat-zat yang merupakan reduktor yang cukup kuat yang dapat dititrasi.Sehingga penerapannya tidak terlalu luas, salah satu penerapan titrasi dengan metode iodimetri adalah pada penentuan bilangan iod minyak dan lemak juga vitamin C.
Sample yang ditimbang saat praktikum adalah 0,1 g, sample ditimbang langsung dalam labu ukur dan diencerkan dengan menggunakan aquadest sampai tanda batas. Setelah sample dikocok sampai homogen, selanjutnya sample dipipet sebanyak 5 mL dan dimasukan dalam erlenmeyer, kemudian ditambahkan H2SO4, dan segera ditambahkan iod 0,1 N dan  amilum  sebagai indikator sebanyak 3 tetes setelah itu dititrasi dengan menggunakan tiosulfat.
Proses titrasi dilakukan sampai larutan dalam erlenmeyer berubah warna menjadi biru, warna biru yang dihasilkan merupakan iod-amilum yang menandakan bahwa proses titrasi telah mencapai titik akhir, indikator yang dipergunakan dalam analisa vitamin C dengan metode iodimetri adalah larutan amilum.
Reaksi yang terjadi adalah :
Berdasarkan hasil praktikum volume titrasi pada sample minuman sari buah ABC adalah 1,86 dan 3,1 mL. Sehingga berdasarkan perhitungan menggunakan rumus maka kadar vitamin C dalam sample vitacimin adalah 16,37% dan  pulpy orange adalah 136,4%.
Hasil tersebut tidak dapat dibandingkan dengan standar dari SNI 01-3719-1995 tentang sari buah, hal ini dikarenakan pada standar SNI tersebut tidak ada parameter tentang kadar vitamin C dalam sari buah.


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Titrasi iodimetri dilakukan dengan menggunakan amilum sebagai indikator. Sepertiyang sudah diketahui bahwa prinsip dari titrasi iodimetri adalah reduksi analat oleh I2 menjadi I.Penentuan kadar vitamin C dengan metode titarsi iodimetri ini didasarkan pada prinsiptereduksinya analat oleh I2 menjadi ion I-. ARed + I2 Aoks + I- Iod merupakan oksidator yangtidak terlalu kuat, sehingga hanya zat-zat yang merupakan reduktor yang cukup kuat yang dapat dititrasi. Sehingga penerapannya tidak terlalu luas, salah satu penerapan titrasi dengan metodeiodimetri adalah pada penentuan bilangan iod minyak dan lemak juga vitamin C.Praktikum dan analisa kuantitatif vitamin C dalam sampel dilakukan dengan menggunakan metode titrasi iodimetri (titrasi langsung) penentuan dilakukan dengan menggunakan larutan 0,1 N yang telah di standarisasi dengan titrant, sehingga  terbentuknya warna biru.
5.2 Saran
            Dalam melakukan praktikum, hendaknya dilakukan secara teliti agar pada pencampuran  larutan maupun pada saat titrasi supaya  bisa menghasilkan perubahan yang benar-benar sesuai. Begitu juga pada kesterilan alat-alat praktikum sangat penting agar pada saat proses pengerjaan berlangsung tidak ada tercampur atau terkontaminasi dengan larutan selain yang sudah ditentukan pada prosedur kerja.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar