BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Vitamin
dikenal sebagai suatu kelompok senyawa organik yang tidak termasuk dalam
golongan karbohidrat, protein, maupun lemak, dan terdapat dalam jumlah yang
kecil dalam bahan makanan tetapi sangat penting peranannya bagi beberapa fungsi
tertentu tubuh untuk menjaga kelangsungan hidup serta pertumbuhan.Vitamin tidak
memberikan kalori dan tidak ikut menyusun jaringan tubuh tetapi memberikan
fungsi yang spesifik dalam tubuh. Vitamin tersebut umumnya dapat dikelompokan ke
dalam 2 golongan utama yaitu vitamin yang larut dalam lemak yang meliputi A, D,
E, K dan vitamin yang larut dalam air yang terdiri dari vitamin C dan B.Vitamin
A (retinol) terutama terdapat pada minyak ikan, hati, kuning telur, mentega dan
krim. Sayuran berdaun hijau dan sayuran berwarna kuning mengandung karoten
(misalnya beta karoten), yang secara perlahan akan diubah oleh tubuh menjadi
vitamin A. Dalam kebanyakan titrasi langsung dengan iod (iodimetri), digunakan
suatu larutan iod dalam kalium iodida, dan karena itu spesi reaktifnya adalh
ion tri-iodida, I3-. Untuk tepatnya, semua persamaan yang melibatkan
reaksi-reaksi iod seharusnya ditulis dengan I3- dan bukan dengan I2.Warna
larutan 0,1 N iodium adalah cukup kuat sehingga iodium dapat bekerja sebagai
indikatornya sendiri. Iodium juga memberi warna ungu atau merah lembayung yang
kuat kepada pelarut-pelarut sebagai karbon tetraklorida atau kloroform dan
kadang-kadang hal ini digunakan untuk mengetahui titik akhir titrasi.Akan
tetapi lebih umum digunakan suatu larutan (dispersi koloidal) kanji, karena
warna biru tua dari kompleks kanji-iodium dipakai untuk suatu uji sangat peka
terhadap iodium.Kepekaan lebih besar dalam larutan yang sedikit asam daripada
larutan netral dan lebih besar dengan adanya ion iodide.
1.2
Tujuan Praktikum
Menentukan kandungan vitamin C dalam
sampel dengan cara titrasi iodium.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Vitamin C
Vitamin
C adalah salah satu jenis vitamin yang larut dalam air dan memiliki peranan
penting dalam menangkal berbagai penyakit.Vitamin ini juga dikenal dengan nama
kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat.Vitamin C termasuk golongan
vitamin antioksidan yang mampu menangkal berbagai radikal bebas ekstraselular.Beberapa
karakteristiknya antara lain sangat mudah teroksidasi oleh panas, cahaya, dan
logam.Buah-buahan, seperti jeruk, merupakan sumber utama vitamin ini.
Vitamin C berhasil diisolasi untuk
pertama kalinya pada tahun 1928 dan pada tahun 1932 ditemukan bahwa vitamin ini
merupakan agen yang dapat mencegah sariawan.Albert Szent-Györgyi menerima
penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1937 untuk
penemuan ini.Selama ini vitamin C atau asam askorbat dikenal perananny dalam
menjaga dan memperkuat imunitas terhadap infeksi.Pada beberapa penelitian
lanjutan ternyata vitamin C juga telah terbukti berperan penting dalam
meningkatkan kerja otak.Dua peneliti di Texas Woman's University menemukan
bahwa murid SMTP yang tingkat vitamin C-nya dalam darah lebih tinggi ternyata
menghasilkan tes IQ lebih baik daripada yang jumlah vitamin C-nya lebih rendah.
Vitamin C diperlukan untuk menjaga
struktur kolagen, yaitu sejenis protein yang menghubungkan semua jaringan
serabut, kulit, urat, tulang rawan, dan jaringan lain di tubuh manusia.
Struktur kolagen yang baik dapat menyembuhkan patah tulang, memar, pendarahan
kecil, dan luka ringan.
Buah jeruk, salah satu sumber vitamin
C terbesar.Vitamin c juga berperan penting dalam membantu penyerapan zat besi
dan mempertajam kesadaran.Sebagai antioksidan, vitamin c mampu menetralkan radikal
bebas di seluruh tubuh.Melalui pengaruh pencahar, vitamini ini juga dapat
meningkatkan pembuangan feses atau kotoran. Vitamin C juga mampu menangkal
nitrit penyebab kanker. Penelitian di Institut Teknologi Massachusetts
menemukan, pembentukan nitrosamin (hasil akhir pencernaan bahan makanan yang
mengandung nitrit) dalam tubuh sejumlah mahasiswa yang diberi vitamin C berkurang
sampai 81%,hasil ini masih dipertanyakan, tetapi pada penelitian terbaru
kelebihan dosis vitamin c justru menyebabkan perubahan sel yang bisa
mengakibatkan kanker.
Hipoaskorbemia
(defisiensi asam askorbat) bisa berakibat keadaan pecah-pecah di lidah scorbut,
baik di mulut maupun perut, kulit kasar, gusi tidak sehat sehingga gigi mudah
goyah dan lepas, perdarahan di bawah kulit (sekitar mata dan gusi), cepat
lelah, otot lemah dan depresi.Di samping itu, asam askorbat juga berkorelasi
dengan masalah kesehatan lain, seperti kolestrol tinggi, sakit jantung, artritis
(radang sendi), dan pilek.
Kebutuhan vitamin C memang
berbeda-beda bagi setiap orang, tergantung pada kebiasaan hidup masing-masing.
Pada remaja, kebiasaan yang berpengaruh di antaranya adalah merokok, minum
kopi, atau minuman beralkohol, konsumsi obat tertentu seperti obat antikejang,
antibiotik tetrasiklin, antiartritis, obat tidur, dan kontrasepsi oral.Kebiasaan
merokok menghilangkan 25% vitamin C dalam darah. Selain nikotin senyawa lain
yang berdampak sama buruknya adalah kafein. Selain itu stres, demam, infeksi,
dan berolahraga juga meningkatkan kebutuhan vitamin C. Pemenuhan kebutuhan
vitamin C bisa diperoleh dengan mengonsumsi beraneka buah dan sayur seperti
jeruk, tomat, arbei, stroberi, asparagus, kol, susu, mentega, kentang, ikan,
dan hati.
Istilah oksidasi mengacu pada setiap
perubahan kimia dimana terjadi kenaikan bilangan oksidasi, sedangkan reduksi
digunakan untuk setiap penurunan bilangan oksidasi.Berarti proses oksidasi
disertai hilangnya elektron sedangkan
reduksi memperoleh elektron. Oksidator adalah senyawa di mana atom yang
terkandung mengalami penurunan bilangan oksidasi.Sebaliknya pada reduktor, atom
yang terkandung mengalami kenaikan bilangan oksidasi. Oksidasi-reduksi harus
selalu berlangsung bersama dan saling menkompensasi satu sama lain. Istilah
oksidator reduktor mengacu kepada suatu senyawa, tidak kepada atomnya saja
(Khopkar, 2003).
Oksidator lebih jarang ditentukan
dibandingkan reduktor.Namin demikian, oksidator dapat ditentukan dengan
reduktor. Reduktor yang lazim dipakai untuk penentuan oksidator adalah kalium
iodida, ion titanium(III), ion besi(II), dan ion vanadium(II). Cara titrasi
redoks yang menggunakan larutan iodium sebagai pentiter disebut iodimetri,
sedangkan yang menggunakan larutan iodida sebagai pentiter disebut iodometri
(Rivai, 1995).
Dalam proses analitik, iodium
digunakan sebagai pereaksi oksidasi (iodimetri) dan ion iodida digunakan
sebagai pereaksi reduksi (iodometri). Relatif beberapa zat merupakan pereaksi
reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi secara langsung dengan iodium.Maka
jumlah penentuan iodimetrik adalah sedikit. Akan tetapi banyak pereaksi
oksidasi cukup kuat untuk bereaksi sempurna dengan ion iodida, dan ada banyak
penggunaan proses iodometrik. Suatu kelebihan ion iodida ditambahkan kepada
pereaksi oksidasi yang ditentukan, dengan pembebasan iodium, yang kemudian
dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat.Reaksi antara iodium dan tiosulfat
berlangsung secara sempurna (Underwood, 1986).
Iodium hanya sedikit larut dalam air
(0,00134 mol per liter pada 25 0C),
tetapi agak larut dalam larutan yang mengandung ion iodida. Larutan iodium standar dapat dibuat dengan
menimbang langsung iodium murni dan pengenceran dalam botol volumetrik.Iodium,
dimurnikan dengan sublimasi dan ditambahkan pada suatu larutan KI pekat, yang
ditimbang dengan teliti sebelum dan sesudah penembahan iodium.Akan tetapi
biasanya larutan distandarisasikan terhadap suatu standar primer, As2O3 yang paling
biasa digunakan.(Underwood, 1986).
Larutan standar yang dipergunakan
dalam kebanyakan proses iodometrik adalah natrium tiosulfat. Garam ini biasanya
tersedia sebagai pentahidrat Na2S2O3.5H2O.Larutan tidak boleh distandarisasi
dengan penimbangan secara langsung, tetapi harus distandarisasi terhadap
standar primer.Larutan natrium tiosulfat tidak stabil untuk waktu yang
lama.Sejumlah zat padat digunakan sebagai standar primer untuk larutan natrium
tiosulfat.Iodium murni merupakan standar yang paling nyata, tetapi jarang
digunakan karena kesukaran dalam penanganan dan penimbangan. Lebih sering
digunakan pereaksi yang kuat yang membebaskan iodium dari iodida, suatu proses
iodometrik (Underwood, 1986).
Warna larutan 0,1 N iodium adalah
cukup kuat sehingga iodium dapat bekerja sebagai indikatornya sendiri. Iodium
juga memberi warna ungu atau merah lembayung yang kuat kepada pelarut-pelarut
sebagai karbon tetraklorida atau kloroform dan kadang-kadang hal ini digunakan
untuk mengetahui titik akhir titrasi.Akan tetapi lebih umum digunakan suatu
larutan (dispersi koloidal) kanji, karena warna biru tua dari kompleks
kanji-iodium dipakai untuk suatu uji sangat peka terhadap iodium.Kepekaan lebih
besar dalam larutan yang sedikit asam daripada larutan netral dan lebih besar
dengan adanya ion iodida (Underwood, 1986).
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan
Tempat
Praktikum
tentang penentuan kandungan vitamin C sampel dengan cara titrasi iodium ini
dilakukan di Laboratorium Politeknik Tanah Laut pada hari Jumat, 18 Nopember
2011 pada pukul 08.00 – 10.00 WITA.
3.2 Alat dan
Bahan
-
Alat:
·
Gelas
beker
·
Hotplate
·
Kaca
Arloji
·
Montar
·
Labu
Erlenmeyer
·
Pipet
·
Neraca
Analotik
·
Buret
·
Pipet
volume
-
Bahan:
·
aquades
·
Vitamin
C
·
Pulpy
orange
·
iodine
·
amilum
·
H2SO4
3.3 Prosedur
Kerja
1.
penentuan
vitamin C dalam tablet
-
panaskan
aquades hingga mendidih, kemudian dinginkan.
-
Masukkan
50ml aquades kedalam beker yang ada vitamin C.
-
Pipet
sebanyak 5ml kedalam Erlenmeyer.
-
Tambahkan
3ml H2SO4.
-
Segera
tambahkan iodine 10ml.
-
Tambahkan
3 tetes amilum.
-
Titrasi
hingga warna biru hilang ( volume 32,3 ) menggunakan tiosulfat.
2.
Penentuan Kadar
vitamin C dalam minuman pulpy orange
-
Ambil
20ml pulpy orange pipet kedalam Erlenmeyer.
-
Tambahkan
3ml H2SO4 2N.
-
Segera
tambahkan 10ml iodine 0,1N.
-
3
tetes amilum ditambahkan ( volume awal
-
Titrasi
dengan tiosulfat ( volume
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Hasil titrasi
pada kadar vitamin C tablet, masing-masing kelompok:
ü Kelompok IV = 6,4 – 4,6 = 1,8
ü Kelompok V = 10,2 – 8,0 = 2,2
ü Kelompok VI = 11,8 – 10,2 = 1,6
Jadi
rata-rata volume titrasi = 
·
Kadar
vitamin C (%) =
x 100
·
Kadar
vitamin C (%)=
x 100
·
Kadar
vitamin C (%) = 16,37 %
Hasil titrasi
pada kadar vitamin C Pulpy orenge,
masing-masing kelompok:
ü Kelompok I = 25,9 – 23 = 2,9
ü Kelompok II = 29,7 – 25,9 = 3,8
ü Kelompok III = 32,3 – 29,7 = 2,6
Jadi
rata-rata volume titrasi = 
·
Kadar
vitamin C (%) =
x 100
·
Kadar
vitamin C (%)=
x 100
·
Kadar
Vitamin C (%) = 136,4%
4.2 Pembahasan
Praktikum
analisa kuantitatif vitamin C dalam sample dilakukan dengan menggunakan metode
titrasi iodimetri (titrasi langsung) hal ini berdasarkan bahwa sifat vitamin C
dapat bereaksi dengan iodin Penentuan ini dilakukan dengan menggunakan
larutan 0,1 N sebagai titrant.
Sample
yang dipergunakan saat praktikum adalah minuman sari buah dalam kemasan yang
banyak dijual di pasaran dengan merk dagang pulpy orange dan vitacimin.
Vitamin
C atau asam bersifat larut dalam air dan sedikit larut dalam aseton atau
alkohol yang mempunyai berat molekul rendah.Akan tetapi vitamin C sukar larut
dalam pelarut organic yang pada umumnya dapat melarutkan lemak.
Titrasi
iodimetri dilakukan dengan menggunakan amilum sebagai indikator.Seperti yang
sudah diketahui bahwa prinsip dari titrasi iodimetri adalah reduksi analat oleh
I2 menjadi I-.
ARed
+ I2 Aoks + I-
Iod
merupakan oksidator yang tidak terlalu kuat, sehingga hanya zat-zat yang
merupakan reduktor yang cukup kuat yang dapat dititrasi.Sehingga penerapannya
tidak terlalu luas, salah satu penerapan titrasi dengan metode iodimetri adalah
pada penentuan bilangan iod minyak dan lemak juga vitamin C.
Sample
yang ditimbang saat praktikum adalah 0,1 g, sample ditimbang langsung dalam
labu ukur dan diencerkan dengan menggunakan aquadest sampai tanda batas.
Setelah sample dikocok sampai homogen, selanjutnya sample dipipet sebanyak 5 mL
dan dimasukan dalam erlenmeyer, kemudian ditambahkan H2SO4, dan segera
ditambahkan iod 0,1 N dan amilum sebagai indikator sebanyak 3 tetes setelah
itu dititrasi dengan menggunakan tiosulfat.
Proses
titrasi dilakukan sampai larutan dalam erlenmeyer berubah warna menjadi biru,
warna biru yang dihasilkan merupakan iod-amilum yang menandakan bahwa proses
titrasi telah mencapai titik akhir, indikator yang dipergunakan dalam analisa
vitamin C dengan metode iodimetri adalah larutan amilum.
Reaksi
yang terjadi adalah :
Berdasarkan
hasil praktikum volume titrasi pada sample minuman sari buah ABC adalah 1,86
dan 3,1 mL. Sehingga berdasarkan perhitungan menggunakan rumus maka kadar
vitamin C dalam sample vitacimin adalah 16,37% dan pulpy orange adalah 136,4%.
Hasil
tersebut tidak dapat dibandingkan dengan standar dari SNI 01-3719-1995 tentang
sari buah, hal ini dikarenakan pada standar SNI tersebut tidak ada parameter
tentang kadar vitamin C dalam sari buah.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Titrasi
iodimetri dilakukan dengan menggunakan amilum sebagai indikator. Sepertiyang
sudah diketahui bahwa prinsip dari titrasi iodimetri adalah reduksi analat oleh
I2 menjadi I.Penentuan kadar vitamin C dengan metode titarsi iodimetri ini
didasarkan pada prinsiptereduksinya analat oleh I2 menjadi ion I-. ARed + I2
Aoks + I- Iod merupakan oksidator yangtidak terlalu kuat, sehingga hanya
zat-zat yang merupakan reduktor yang cukup kuat yang dapat dititrasi. Sehingga
penerapannya tidak terlalu luas, salah satu penerapan titrasi dengan
metodeiodimetri adalah pada penentuan bilangan iod minyak dan lemak juga
vitamin C.Praktikum dan analisa kuantitatif vitamin C dalam sampel dilakukan
dengan menggunakan metode titrasi iodimetri (titrasi langsung) penentuan
dilakukan dengan menggunakan larutan 0,1 N yang telah di standarisasi dengan titrant,
sehingga terbentuknya warna biru.
5.2 Saran
Dalam
melakukan praktikum, hendaknya dilakukan secara teliti agar pada
pencampuran larutan maupun pada saat
titrasi supaya bisa menghasilkan
perubahan yang benar-benar sesuai. Begitu juga pada kesterilan alat-alat
praktikum sangat penting agar pada saat proses pengerjaan berlangsung tidak ada
tercampur atau terkontaminasi dengan larutan selain yang sudah ditentukan pada
prosedur kerja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar