LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI HORTIKULTURA
Disusun Oleh :
Syarifah Habibah Soraya Assegaf
Pembimbing :
Dwi Sandri, S.Si,.MP
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
POLITEKNIK TANAH LAUT
PELAIHARI
2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Upaya
pengembangan teknik-teknik penanganan komoditi hortikultura panenan terus
dilakukan. Baik itu berupa penelitian pengembangan teknik-teknik baru ataupun
pengujian beberapa teknologi yang telah ada terhadap berbagai jenis komoditi
yang berbeda. Pengembangan teknologi penanganan paska panen saat sekarang ini
ditekankan pada pengembangan metode pendinginan, pengelolaan atau pengendalian
suhu, teknik pemanenan, teknik pengananan dalam transportasi, wadah atau
kontainer, modifikasi ruang (atmosfir) simpan ataupun pengembangan teknik
rekayasa genetika. Hal-hal tersebut sangat diperlukan untuk dapat
mempertahankan keadaan segar suatu komoditi semaksimal mungkin.
Menghadirkan
beberapa jenis komoditi di luar musim sebenarnya akibat adanya permintaan yang
besar dan sekaligus sebagai pemacu pengembangan teknologi paska panen. Oleh
karena itu, perkembangan terkini untuk memperoleh hasil panenan hortikultura
yang memiliki daya simpan panjang tidak saja diarahkan kepada teknik pengelolaan
lingkungan simpan, tetapi berkembang pula teknik rekayasa genetika. Teknik ini
diarahkan untuk menghasilkan jenis-jenis tanaman yang memiliki bagian panenan
yang dapat tahan lama setelah lepas panen dari pohon induknya secara alami
akibat adanya karakter dalam (sifat genetis).
Seiring
dengan perkembangan dunia dan tuntutan manusia, maka pengetahuan dan ilmu dalam
kajian bioteknologi khususnya pada aspek pasca panen telah berkembang cukup
pesat. Terdapat berbagai teknik yang termasuk dalam bioteknologi bagi
upaya-upaya mengurangi kehilangan hasil pada periode pasca penen.
1.2 Tujuan
Praktikum
1.
Mahasiswa
memahami adanya interaksi metabolisme produk dengan karakteristik permeabilitas
plastic berpengaruh terhadap mutu produk holtikultura.
2.
Mahasiswa
memahami pentingnya pengemasan dan suhu penyimpanan sebagai cara untuk
mempelambat kemunduran produk
3.
Mahasiswa
mampu mengidentifikasi perubahan-perubahan karakteristik mutu produk segar
akibat pengemasan plastic dan suhu selama penyimpanan
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Untuk memperlambat laju
kemunduran pasca panen komuditas buah-buahan dan sayuran diperlukan suatu cara
penanganan dan pelakuan yang baik, sehingga laju respirasi dan transpirasi
dapat ditekan serendah mungkin. Cara yang paling efektif untuk menurunkan laju
respirasi adalah dengan menurunkan suhu produk. Namun demikian beberapa cara
tambahan dari cara pendinginan tersebut dapat meningkatkan efektifitas
penurunan laju respirasi
Pengemasan dengan plastic
film adalah salah satu cara untuk menurunkan laju respirasi tersebut. Dengan
kemasan plastic untuk produk segar akan menyebabkan adanya perubahan
konsentrasi CO2 dan O2 sekitar produk didalam kemasan sebagai akibat dari
proses respirasi produk serta interaksinya dengan permeabilitas plastic
terhadap O2 dan CO2. Menurunnya konsentrasi O2 dan meningkatnya konsentrasi CO2
sebagai akibat respirasi produk, dan karakteristik permeabilitas dari kemasan
pelastik ikut berperan dalam mengkreasi konsentrasi O2 dan CO2 didalam ruang
bebas kemasan dapat berakibat terhadap penurunan laju respirasi produk kemasan
itu sendiri.
Pemilihan ketebalan kemasan plastic adalah hal
yang kritis karena berehubungan dengan permeabilitas terhadap O2 dan CO2 serta
uap air, yang berarti pula sebagai salah satu cara untuk mempertahankan RH
udara sekitar produk. Syarief dkk.1989 menyatakan bahwa jenis plastic
polietilen densitas rendah biasanya digunakan untuk mengemas buah-buahan dan
sayuran. Hal ini disebabkan karena dengan penggunaan jenis palstik polietilan
menyebabkan peningkatan konsentrasi CO2 dan penurunan konsentrasi O2 yang mampu
memperlambat proses pematangan dan umur simpan. Namun demikian konsentrasi CO2
berlebihan dan O2 yang terbatas akibat kesalahan memilih ketebalan dari plastic
tersebut mengakibatkan metabolism menyimpang dalam buah yaitu terjadinya
respirasi anaerobic yang berakibat kegagalan pemasakan dan penyimpangan bau
(off flavor). Jika konsentrasi CO2 yang tinggi dalam kemasan akan mengakibatkan
matinya sel-sel buah akibat terhambatnya aktifitas enzim pada proses respirasi
dan asam organic, gagalnya buah mengalami pemasakan sehingga proses metabolisme
yang merombak pati menjadi gula akan terhambat, dengan permeabilitas tertentu
dari plastic film tersebut terhadap O2 dan CO2 akan menyebabkan adanya kesetimbangan
konsentrasi dari gas-gas tersebut yang mampu menjaga laju respirasi aerobic
yang rendah dan berakibat pada laju perpanjangan masa simpan dari produk segar
tersebut.
2.1
Modified atmosphere packaging (MAP)
Salah satu cara untuk
menekan laju respirasi adalah dengan pengemasan dalam film plastic yang dapat
memodifikasi atmosfer di sekitar produk (pengemasan atmosfer termodifikasi atau
modified atmosphere packaging atau MAP). MAP umumnya menghalangi
pergerakan udara, memungkinkan proses respirasi normal produk mengurangi kadar
oksigen dan meningkatkan kadar karbon dioksida udara di dalam kemasan.
Keuntungan utama tambahan penggunaan film plastik adalah mengurangi kehilangan
air.
MAP dapat digunakan dalam
kontainer pengapalan dan dalam unit-unit kemasan konsumen. Modifikasi atmosfer
dan secara aktif ditimbulkan dengan membuat sedikit vakum dalam kemasan
tertutup. (seperti kantong polietilen yang tidak berventilasi), dan kemudian
memasukkan campuran komposisi atmosfer yang diinginkan yang sudah jadi dari
luar. Secara umum, penurunan konsentrasi oksigen dan peningkatan konsentrasi
karbon dioksida akan bermanfaat terhadap kebanyakan komoditi. campuran gas yang
direkomendasi untuk penyimapanan dan transportasi atmosfer terkendali dan
atmosfer termodifikasi bagi berbagai komoditi, Pemilihan film polimerik terbaik
untuk setiap komoditi/kombinasi ukuran kemasan tergantung pada permeabilitas
film dan laju respirasi pada kondisi waktu/suhu yang dinginkan selama
penanganan. Penyerap oksigen, karbon dioksida dan/atau etilen dapat digunakan
dalam kemasan atau kontainer untuk membantu menjaga komposisi atmosfer yang
diinginkan. Pengemasan dengan atmosfer termodifikasi hendaknya selalu dipandang
sebagai tambahan untuk pengelolaan suhu dan kelembaban nisbi yang baik.
Perbedaan antara manfaat dan kerugian konsentrasi dari oksigen dan
karbondioksida untuk setiap jenis produk adalah relatif kecil, sehingga
tindakan sangat hati-hati harus dilakukan jika menggunakan teknologi ini.
2.2
Pengertian Respirasi
Respirasi adalah suatu proses
pembongkaran bahan organik yang tersimpan (katabolisme) seperti karbohidrat,
protein, dan lemak menjadi bahan sederhana dan produk akhirnya berupa energi.
Oksigen digunakan dalam proses ini, dan karbondioksida dikeluarkan/dihasilkan.
Makna dari terjadinya respirasi pada organ panenan adalah
1.
Senesen
dipercepat karena cadangan makanan yang diubah menjadi energi untuk
mempertahankan kehidupan komoditi secara bertahap akan habis,
2.
Kehilangan
nilai gizi bagi konsumen dan berkurangnya mutu rasa, khususnya rasa manis,
3.
Kehilangan
berat kering ekonomis.
Energi yang muncul sebagai panas
dikenal sebagai Panas Vital, sangat penting dalam teknologi pasca panen untuk
memperkirakan proses pendinginan dan kebutuhan ventilasi dalam upaya
penyimpanan. Laju proses deteriorasi komoditi yang dipanen umumnya sebanding
dengan laju respirasi
2.3 Transpirasi atau
hilangnya air
Kehilangan air dapat merupakan
penyebab utama deteriorasi karena tidak saja berpengaruh langsung pada kehilangan
kuantitatif (bobot) tetapi juga menyebabkan kehilangan kualitas dalam
penampilannya (dikarenakan layu dan pengkerutan), kualitas penampilan (lunak,
mudah patah) dan kualitas nutrisi.
Laju transpirasi dipengaruhi oleh
faktor dalam atau faktor komoditi (sifat morfologi dan anatomi) dan faktor luar
(suhu, kelembaban relatif, tekanan atmosfir dan kecepatan gerakan udara).
Terkait dengan faktor-faktor tersebut dan bahwa transpirasi adalah proses
fisika yang dapat dikendalikan maka pengurangan atau penekanan proses
transpirasi pada komoditi panenan dapat pula dilakukan. Upaya-upaya tersebut
meliputi pembungkusan atau penyelaputan, pengemasan ataupun manipulasi lingkungan yang tidak
menguntungkan menjadi lingkungan yang nyaman bagi komoditi selama dalam
penyimpanan.
2.4 Faktor Lingkungan Yang Mempengaruhi Deteriorasi
a. Suhu
Suhu merupakan faktor lingkungan
terpenting yang mempengaruhi laju deteriorasi komoditi panenan. Untuk setiap
kenaikan 10O C (atau 18O F) di atas optimum, laju deteriorasi meningkat 2 – 3
kali. Selain itu suhu berhubungan langsung dengan tingkat produksi etilen,
penurunan oksigen dan peningkatan karbondioksida serta mudahnya infeksi jamur
ataupun bakteri. Secara umum, hasil penelitian menunjukkan bahwa pendinginan
komoditi panenan sesegera setelah panen pada suhu 5C akan dapat mengurangi
kerusakan yang disebabkan mikroorganisme.
b. Kelembaban relatif
Laju kehilangan air dari komoditi
panenan seperti sayur dan buah tergantung pada defisit tekanan uap antara
komoditi dan keadaan udara di sekitarnya. Hal ini juga dipengaruhi oleh suhu
dan kelembaban relatif udara. Pada suhu dan laju pergerakan udara tertentu,
kehilangan air dari komoditi tergantung pada kelembaban relatif, dan pada titik
tertentu kehilangan air meningkat dengan meningkatnya suhu.
c. Komposisi atmosfir
Penurunan oksigen dan peningkatan
karbondiokasida dapat menunda atau mempercepat deteriorasi. Besarnya pengaruh tersebut
tergantung pada komoditi, kultivar, umur fisiologis, oksigen dan
karbondioksida, suhu dan lamanya penanganan.
d. Etilen
Pengaruh etilen pada komoditi panenan
dapat menguntungkan maupun merugikan. Etilen dapat digunakan untuk mempercepat
pemasakan yang seragam pada buah yang dipetik pada stadia matang hijau.
Sementara itu, perlakuan etilen dapat merugikan (penurunan kualitas) kebanyakan
sayuran dan tanaman hias.
e. Cahaya
Adanya pencahayaan pada komoditi
panenan akan menyebabkan penurunan kualitas komoditi bersangkutan. Ini terkait
dengan perubahan warna yang mengarah pada pembentukan kloropil maupun
perangsangan pembentukan swnyawa solanine yang bersifat meracun bagi manusia.
f. Faktor lainnya
Yang termasuk faktor-faktor lainnya
disini adalah bahan kimia seperti pestisida ataupun zat pengatur tumbuh yang
kemungkinan digunakan untuk mengurangi kecepatan deteriorasi. Penggunaan yang
tidak tepat suatu senyawa justru berakibat merugikan bagi upaya perpanjangan
masa segar maupun masa simpan komoditi panenan ataupun bersifat meracun bagi
manusia yang mengkunsumsi.
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1
Waktu dan Tempat
Praktikum mata kuliah Holtikultura dilaksanakan pada pukul 10.00-12.00 tanggal 8 Maret 2012 sampai dengan 15 Maret 2012.Bertempat
di Laboratorium Teknologi Industri Pertanian Politeknik Tanah laut.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah Plastik PE dan plastic
kemasan makanan,serta kulkas. Sedangkan bahan yang digunakan pada praktikum ini
adalah sayur sawi.
3.3 Prosedur Kerja
1. Pilih
salah satu jenis sayuran untuk percobaan
2. Bahan
dengan jumlah tertentu dikemas dengan dua jenis plastic
3. Yakinkan
bahwa tidak ada kebocoran udara pada bagian sambungan kemasan plstik
4. Selanjutnya
bahan yang dikemas diletakan disuhu dingin dan suhu ruang
5. Amati
perubahan mutu sayuran selama 7 hari
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Tabel.1
Hasil pengamatan sayur sawi
Pengamatan
|
Perlakuan
|
Hari
|
|||||||
0
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
|||
Tingkat
Kekerasan
|
Plastik 1 tanpa perlakuan
|
Suhu kamar
|
1
|
4
|
4
|
-
|
5
|
5
|
5
|
kulkas
|
1
|
4
|
4
|
-
|
5
|
5
|
5
|
||
Plastik 2
|
Suhu kamar
|
1
|
2
|
2
|
-
|
2
|
3
|
4
|
|
kulkas
|
1
|
2
|
4
|
-
|
4
|
4
|
5
|
||
Plastik 3
|
Suhu kamar
|
1
|
2
|
2
|
-
|
3
|
3
|
4
|
|
kulkas
|
1
|
2
|
3
|
-
|
3
|
3
|
3
|
||
Tingkat
Warna
|
Plastik 1 tanpa perlakuan
|
Suhu kamar
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
5
|
|
Kulkas
|
1
|
3
|
-
|
4
|
5
|
5
|
|||
plastik 2
|
Suhu kamar
|
1
|
1
|
2
|
-
|
3
|
4
|
5
|
|
Kulkas
|
1
|
1
|
2
|
-
|
3
|
4
|
4
|
||
Plastik 3
|
Suhu kamar
|
1
|
1
|
1
|
-
|
2
|
2
|
3
|
|
Kulkas
|
1
|
1
|
1
|
-
|
1
|
2
|
2
|
||
Tingkat
Kebusukan
|
Plastik 1 tanpa perlakuan
|
Suhu kamar
|
1
|
1
|
2
|
-
|
3
|
5
|
5
|
Kulkas
|
1
|
1
|
3
|
-
|
4
|
5
|
5
|
||
Plastik 2
|
Suhu kamar
|
1
|
1
|
2
|
-
|
2
|
3
|
4
|
|
Kulkas
|
1
|
1
|
2
|
-
|
2
|
3
|
3
|
||
Plastik 3
|
Suhu kamar
|
1
|
1
|
1
|
-
|
1
|
2
|
2
|
|
kulkas
|
1
|
1
|
1
|
-
|
1
|
1
|
2
|
||
|
|
|||||
4.2 Pembahasan
Dari percobaan ini dapat dilihat
pengaruh dari pendinginan, dan juga penggunaan kemasan plastic dalam
mempertahankan mutu produk holtikultura khususnya sayuran sawi. Pada hari ke 0,
semua data dinilai sama, yaitu bernilai segar dengan skor 1. Hari kedua, sampel
yang berada pada suhu kamar tanpa perlakuan teksturnya sudah ada di posisi skor
4 (lembut) sedangkan pada suhu kulkas, masih di posisi skor 2 yaitu keras.
Perubahan yang signifikan terjadi pada hari ke 5, dan 6. Tingkat kekerasan dari
sawi yang tanpa perlakuan sudah lembek (kulkas) dan kering kriput (rungan),
warnanya juga sudah 100% berubah.(perubahann warna ini terjadi akibat factor
cahaya yang diterima sampel.) Serta
tekstur yang tidak lagi bagus. Sedangkan untuk sawi yang disimpan dalam plastic
PE pada hari ke 6 mengalami perubahan sekitar 75% dan plastic makanan yang
ditutup rapat perubahannya hanya berkisar 25-50% saja. Hal ini disebabkan
karena perbedaan ketebalan plastic yang digunakan, dengan penggunaan jenis
palstik polietilan menyebabkan peningkatan konsentrasi CO2 dan penurunan
konsentrasi O2 yang mampu memperlambat proses pematangan dan umur simpan.
Selain ketebalan dan jenis plastic,
suhu juga berpengaruh terhadap perbedaan hasil ini. Untuk setiap kenaikan 10C
(atau 18O F) di atas optimum, laju deteriorasi meningkat 2 – 3 kali. Selain itu
suhu berhubungan langsung dengan tingkat produksi etilen, penurunan oksigen dan
peningkatan karbondioksida serta mudahnya infeksi jamur ataupun bakteri. Secara
umum, hasil penelitian menunjukkan bahwa pendinginan komoditi panenan sesegera
setelah panen pada suhu 5C akan dapat mengurangi kerusakan yang disebabkan
mikroorganisme. Inilah yang menyebabkan sawi yang ada di dalam suhu kulkas,
memiliki skor lebih baik dibandingkan suhu ruang.
Respirasi dan Transpirasi air juga
sangat berpengaruh. Respirasi berhubungan dengan kemasan yang dipilih, yaitu
jumlah CO2 dan O2 yang sesuai dalam kemasan. Sedangkan transpirasi air
berhubungan dengan kelembaban relative. Pada suhu dan laju pergerakan udara
tertentu, kehilangan air dari komoditi tergantung pada kelembaban relatif, dan
pada titik tertentu kehilangan air meningkat dengan meningkatnya suhu.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1.
Cara
yang paling efektif untuk menurunkan laju respirasi adalah dengan menurunkan
suhu produk
2.
Menempatkan
produk pada suhu yang rendah sesegera mungkin akan membuat produk lebih tahan
lama
3.
Factor
yang mempengaruhi kerusakan produk adalah suhu, kelembaban, cahaya, etilen, dan
komposisi atmosfir
5.2 Saran
1. Laporan praktikum dibuat bentuk file
saja, untuk menghemat penggunaan kertas
DAFTAR PUSTAKA
·
Panduan
Praktikum Teknik Pascapanen Hortikultura. Jurusan Teknik Pertanian. Fakultas
Teknologi Pertanian. Universitas Udayana. Bali
·
Acquaah,
George, 2002. Horticulture – Principles and Practices. Second Edition,
Prentice Hall.
·
Bautista,
O.K., H.V. Valmayor, P.C. Tabora J.R., and R.R. Espino, 1983. Introduction
To Tropical Horticulture. Dept. of Horticulture Collage of Agriculture
Univ. of The Philippines at Los Banos. Pp:303-305.
·
Brotonegoro
S., Jinadasa D., Lukman G., and Kosim K.M., 1992 (Eds.). Agricultural
Biotechnology. Proceedings of a Workshop on Agricultural Biotechnology,
Bogor , Indonesia May 21 –24, 1991. Central Research Institute for Agricultural
Researcg and Development, Ministry of Agriculture Republik of Indonesia. 330 p.
·
Kader,
Adel A., 1985. Postharvest Biology and Technology : An Overview. In Kader, Adel
A ., et.al. (Eds). Postharvest Technology of Horticultural Crops.
Cooperative Extension, University of California, Division of Agriculture and
Natural Resources.
·
Salunkhe,
D.K., Bhat, N.R., and Desai, B.B., 1990. Postharvest Biotechnology of
Flowers and Ornamental Plants. Springer-Verlag.
·
Wills,
R.B.H., Mc. Glasson, W.B., Graham, D., Lee, T.H., and Hall, E.G., 1989. Postharvest
– An Introduction to The Physiology and Handling of Fruits, and Vegetables.
An Avi Book, Van Nostrand Reinhold, New York.
·
World
Bank, 1990. Agricultural Biotechnology – The Next Green Revolution?
World Bank Technical Paper Number 133. The World Bank, Washington D.C.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar