Rabu, 28 Maret 2012

Crisping Produk Hortikultura


LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI HORTIKULTURA



 



Disusun Oleh :
Syarifah Habibah Soraya Assegaf

Pembimbing :
Dwi Sandri, S.Si,.MP




PROGRAM STUDI TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
POLITEKNIK TANAH LAUT
PELAIHARI
2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Produk pasca panen berupa sayuran daun segar sangat diperlukan oleh tubuh manusia sebagai sumber vitamin dan mineral, namun sangat mudah mengalami kemunduran yang dicirikan oleh terjadinya proses pelayuaan yang cepat. Banyak laporan menyebutkan bahwa susut pascapanen relative sangat tinggi yaitu berkisar 40%-50% khusunya terjadi dinegara-negara sedang berkembang.
Salah satu penyebab terjadinya pelayuan adalah karena adanyan proses transpirasi atau penguapan air yang tinggi melalui bukaan-bukaan alami seperti stomata, hidatoda, dan lentisel yang tersedia pada permukaan dari produk sayuran daun tersebut. Kadar air (85-98%) dan rasio antara luas permukaan dengan berat yang tinggi dari produk memungkinkan laju penguapan air berlangsung tinggi sehingga proses pelayuan dapat terjadi dengan cepat. Selain factor internal produk, factor eksternal produk seperti suhu, kelembapan, serta kecepatan aliran udara berpengaruh terhadap kecepatan pelayuan. Mekanisme membuka dan menutupnya bukaan-bukaan alami pada permukaan produk seperti stomata dipengaruhi oleh suhu produk. Pada kondisi dimana suhu poduk relative tinggi maka buka-bukaan alami cendrung membuka dan sebaliknya pada keadaan suhunya relative rendah maka bukaan alami mengalami penutupan.
Tingginya kandunga air produk menyebabkan tekanan uap air dalam produk selalu dalam keadaan tinggi dan bila kelembaban udara atau tekanan uap air diudara rendah maka akan terjadi deficit tekanan uap air yang menyebabkan perpindahan air dalam produk keudara sekitarnya. Bila sebaliknya, tekanan uap air diluar lingkungan produk lebih tinggi maka akan terjadi pergerakan air dari luar kedalam produk. Sangat memungkinkan untuk mendifusikan air kedalam produk semaksimal mungkin untuk menyegarkan kembali dengan mengatur tekanan air serta mengendalikan mekanisme membuka dan menutupnya bukaan alami, dimana proses penyegaran ini dikenal dengan crisping.


1.2  Tujuan Praktikum
1.    Meningatkan pemahaman kegunanan proses crisping dalam menigkatkan mutu fisik kesegaran dan mutu kesegaran produk sayuran berdaun dibandingkan dengan tanpa proses tersebut
2.    Mampu melaksanakan prosedur crisping dalam meningkatkan mutu fisik kesegaran dan mutu kesegaran produk sayuran berdaun
3.    Mampu melakukan analisis terjadinya proses crisping


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Produk pascapanen hortikultura berupa sayuran daun segar sangat diperlukan oleh tubuh manusia sebagai sumber vitamin dan mineral namun sangat mudah mengalami kemunduran yang dicirikan oleh terjadinya proses pelayuan yang cepat (Ness dan Powles, 1996; Salunkhe et al., 1974). Efektifitas crisping untuk memperbaiki vigoritas dan kesegaran dengan cara mencelupkan ke dalam air hangat dengan ragam suhu 30C -50C dan lama perendaman 1-7 menit spesifik terhadap jenis produk yang erat kaitannya dengan struktur fisik-morfologisnya.
Secara umum proses crisping sayuran selada kriting, kangkung, bawang prei dan sawi cina dengan pencelupan ke dalam air panas 30C 40C efektif untuk penyegaran kembali dilihat dari mutu warna, tekstur dan mutu visual secara keseluruhan, namun efektifitas optimum dari lama pencelupannya tergantung pada jenis produk sayurannya.
Proses crisping dengan menggunakan suhu perendaman 50 C tidak efektif dan justru berakibat pada penurunan mutu. Proses crisping dengan suhu perendaman 30C dan 40C selama 1-3 menit terhadap selada kriting dan bawang prei cukup efektif memberikan pengaruh penyegaran mutu, dan adanya peningkatan lama perendaman cenderung tidak memberikan efek penyegaran berarti. Pada kangkung dan sawi cina, perendaman pada suhu 30C dan 40C selama 7 menit (Supartha,2007).
Menurut Story & Simons (1989), secara umum suhu 45C adalah suhu maksimum kritis bagi produk hortikultura karena mulai pada suhu tersebut produk sangat mengalami kemunduran dimana laju respirasi turun drastis dan cenderung menuju pada pelayuan dan kematian bila suhu ditingkatkan. Dengan karateristik morfologinya, bawang prei dan sawi cina yang telah meningkat suhunya sulit untuk didinginkan dengan cepat sehingga proses respirasi dan transpirasi masih berlangsung tinggi yang berakibat pada penurunan bobot yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk yang hanya dicelup pada suhu 30C. Suhu yang tinggi pada bagian tengah produk, sebagai akibat tidak dilakukan pendinginan yang cepat sebelum dilakukan penyimpanan dalam ruang berpendingin atau pre-cooling, menyebabkan laju respirasi dan transpirasi yang tinggi (Shewfelt, 1990).
Proses crisping yang dilakukan terdiri dari dua tahapan yaitu tahap pertama, perendaman dengan air pada suhu diatas suhu kamar tetapi dibawah suhu kritis (30 – 45 oC), dengan waktu perendaman tertentu. Tahap kedua adalah pendinginan pada suhu dibawah 5oC. Menurut Kays (1991), pada kondisi dimana suhu suatu bahan hasil pertanian meningkat (lebih besar dari suhu lingkungannya) maka stomata atau lentiselnya cendrung membuka dan sebaliknya pada keadaan suhu relatif rendah maka stomata atau lentiselnya mengalami penutupan. Perlakuan perendaman akan mengakibatkan suhu sayuran dan buah mengalami peningkatan, sehingga dengan kondisi tersebut, stomata atau lentiselnya akan membuka. Disaat yang bersamaan lebih tingginya suhu air di lingkungan luar dibandingkan dengan suhu air dalam sayuran dan buah, mengakibatkan tekanan uap air dilingkungan pun menjadi lebih besar dari tekanan uap dalam sayur kailan, sehingga terjadi proses perpindahan massa (air) dari lingkungan ke dalam sayuran dan buah melalui proses difusi. Perpindahan massa secara difusi dari luar kedalam sayuran dan buah akan menjadi lebih optimal pada saat stomata atau lentisel membuka, sehingga air bisa berdifusi sebanyak-banyaknya.
Perubahan bobot akibat crisping dihitung berdasarkan berat awal produk setelah mengalami penyimpanan yaitu saat produk menunjukkan gejala pelayuan pertama sebelum crisping dan dibandingkan dengan produk yang telah mengalami crisping yaitu setelah 1 hari penempatannya pada suhu pemajangan (100C±20C).



 BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1  Waktu dan Tempat
Praktikum mata kuliah Hortikultura dilaksanakan pada pukul 10.00-12.00 tanggal 15 Maret 2012 sampai dengan 16 maret 2012. Bertempat di Laboratorium Teknologi Industri Pertanian Politeknik Tanah laut.
3.2  Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah wadah air hangat, hot plate, tali rapia dan palstik PE. Sedangkan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah sayur kangkung, dan air.
3.3  Prosedur Kerja
1.    Tentuakan jenis sayuran (Kangkung) yang sesuai criteria layu diatas
2.    Potong atau pangkas bagian yang rusak fisik, atau layu fisiologis
3.    Timbang berat sayuran yang akan digunakan, ikat dengan tali raffia
4.    Siapkan air hangat dengan 3 suhu berbeda , 30C,40C, dan 50C
5.    Celupkan bahan percobaan dengan 3 waktu berbeda 1 menit, 3 menit, dan 5 menit
6.    Siapkan control sayuran tanpa dicelup ke air
7.    Tempatkan sayuran yang telah dicelup kedalam kulkas bersuhu 5C
8.    Simpan sayuran selama 24 jam
9.    Amati perubahan







BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1  Hasil
Pengamatan terhadap kondisi fisik-visual sayuran bahan percobaan secara subjektif dilakukan sebelum dan sesudah proses crisping di atas dengan menggunakan criteria, deskripsi dan skala numeric pada Tabel di bawah ini. Pengamatan perubahan bobot sayuran dari sebelum dan sesudah crisping dilakukan dengan menggunakan timbangan, formula di bawah ini digunakan untuk mencari persentase perubahan bobot.
Dimana, PB = Perubahan Bobot (%)
Ba = Bobot sebelum crisping
Bb = Bobot setelah crisping
                                                PB = Bb-Ba
Tabel 1. Hasil Perubahan Bobot pada Perlakuan Crisping
SUHU
WAKTU
BERAT SESUDAH
BERAT SEBELUM
PB (%)
50c
1 Menit
7,85 gr
6.8 gr
1,05 gr
3 Menit
12,4 gr
11,62 gr
0,78 gr
5 Menit
5,97 gr
5,73 gr
0,06 gr
40C
1 Menit
5,01 gr
4,50 gr
0,51 gr
3 Menit
11,30 gr
9,76 gr
1,54 gr
5 Menit
10,17 gr
10,8 gr
-0,63 gr
30C
1 Menit
11,81 gr
10,80 gr
1,01 gr
3 Menit
9,19 gr
8,33 gr
0,86 gr
5 Menit
3,81 gr
3,33 gr
0,48 gr

Control
13,40
14,88
-1,48

Tabel.2 Skor Hasil Pengamatan Warna dan Tekstur pada Perlakuan Crisping
SUHU
WAKTU
WARNA
TEKSTUR
VISUAL
50c
1 Menit
5 (Segar)
5(Segar)
4 (Baik)
3 Menit
4 (Kurang Vigor)
4 (Kurang Segar)
3 (Biasa)
5 Menit
3 ( Layu)
3 (Agak Layu)
2 (Kurang Baik)
40C
1 Menit
5 (Segar)
5 (Segar)
4 (Baik)
3 Menit
5 (Segar)
5 (Segar)
4 (Baik)
5 Menit
5 (Segar)
5 (Segar)
4 (Baik)
30C
1 Menit
5 (Segar)
5 (Segar)
4 (Baik)
3 Menit
5 (Segar)
5 (Segar)
4 (Baik)
5 Menit
5 (Segar)
5 (Segar)
4 (Baik)

4.2  Pembahasan
Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat terlihat perbedaan perubahan bobot dari masing-masing suhu (Tabel 1). Rata-rata semua suhu dan sampel mendapatkan bobot yang bertambah dan naik antara 1 sampai 1,5 gr sedangkan kangkung yang tidak mendapatkan perlakuan atau kankgkung control bobotnya menurun. Hal ini disebabkan karena Proses crisping yang dilakukan terdiri dari dua tahapan yaitu tahap pertama, perendaman dengan air pada suhu diatas suhu kamar tetapi dibawah suhu kritis (30 – 40 oC), dengan waktu perendaman tertentu. Tahap kedua adalah pendinginan pada suhu dibawah 5oC. Menurut Kays (1991), pada kondisi dimana suhu suatu bahan hasil pertanian meningkat (lebih besar dari suhu lingkungannya) maka stomata atau lentiselnya cendrung membuka dan sebaliknya pada keadaan suhu relatif rendah maka stomata atau lentiselnya mengalami penutupan. Perlakuan perendaman akan mengakibatkan suhu sayuran dan buah mengalami peningkatan, sehingga dengan kondisi tersebut, stomata atau lentiselnya akan membuka. Disaat yang bersamaan lebih tingginya suhu air di lingkungan luar dibandingkan dengan suhu air dalam sayuran dan buah, mengakibatkan tekanan uap air dilingkungan pun menjadi lebih besar dari tekanan uap dalam sayur, sehingga terjadi proses perpindahan massa (air) dari lingkungan ke dalam sayuran dan buah melalui proses difusi. Perpindahan massa secara difusi dari luar kedalam sayuran dan buah akan menjadi lebih optimal pada saat stomata atau lentisel membuka, sehingga air bisa berdifusi sebanyak-banyaknya, dengan proses inilah yang menyebabkan bobot dari kangkung meningkat.
Pada tabel 2 dapat dilihat perbedaan warna, tekstur dan visual keseluruhan dari masing-masing suhu. Suhu 50C memang terbukti tidak efektif, karena kangkung yang dihasilkan menjadi layu, ini karena Menurut Story & Simons (1989), secara umum suhu 45C adalah suhu maksimum kritis bagi produk hortikultura karena mulai pada suhu tersebut produk sangat mengalami kemunduran dimana laju respirasi turun drastis dan cenderung menuju pada pelayuan dan kematian bila suhu ditingkatkan





BAB V
PENUTUP
5.1   Kesimpulan
1.    Metode Crisping adalah metode penyegaran dengan 2 tahapan, pertama perendaman dengan suhu 30-40C, kedua pendinginan dengan suhu 5C
2.    Dengan proses crisping  bobot sayuran akan meningkat,karena perpindahan massa air.
3.    Suhu yang efektif untuk metode crisping adalah 30C-40C

5.2  Saran
1.    Laporan praktikum dibuat bentuk file, untuk menghemat penggunaan kertas



 



DAFTAR PUSTAKA
·         Panduan Praktikum Teknik Pascapanen Hortikultura. Jurusan Teknik Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian. Universitas Udayana. Bali

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar