Rabu, 28 Maret 2012

Makalah Sorgum



TEKNOLOGILEGUM DAN SEREALIA




Disusun Oleh :
Syarifah Habibah Soraya Assegaf

Pembimbing :
Erfanur Adhlani, S.Si,.MP


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Diabetes merupakan salah satu penyakit yang banyak diderita oleh penduduk dunia, termasuk di Indonesia. Menurut International Diabetes Federation, angka penderita diabetes dunia saat ini sekitar 194 juta orang, jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi 500 juta orang pada tahun 2025. Saat ini, tercatat 8.4 juta penduduk Indonesia menderita penyakit diabetes. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat menjadi 21.3 juta pada tahun 2030.
Penyakit diabetes disebabkan oleh tingginya kadar glukosa dalam darah (hiperglikemik) karena obesitas, konsumsi gula yang tinggi dan minimnya aktifitas fisik. Selain disebabkan oleh gaya hidup seseorang, diabetes juga dipengaruhi oleh faktor genetika. Derajat kesehatan penderita diabetes sangat bergantung pada kontrol glisemik di dalam tubuhnya yang dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi
Penderita diabetes membutuhkan makanan dengan kadar glukosa yang rendah atau berindeks glisemik rendah. Berdasarkan nilai indeks glisemiknya bahan pangan dibagi menjadi tiga, bahan pangan berideks glisemik rendah (<55), bahan pangan berindeks glisemik sedang (55-69), dan bahan pangan berindeks glisemik tinggi (>70) (foster-power 2002). Harga makanan bagi penderita diabetes cenderung mahal, sehingga penderita diabetes kadang mengabaikan kadar gula dari makanan yang dikonsumsinya. Untuk itu, dibutuhkan suatu inovasi terhadap bahan pangan agar diperoleh produk makanan yang praktis, murah dan memiliki sifat fungsional bagi penderita diabetes. Salah satu jenis bahan pangan tersebut adalah sorgum.
Sorgum merupakan salah satu jenis serealia yang termasuk dalam family gramineae dan sub famili panicoideae (Mudjsihono dan Suprapto, 1987). Di Indonesia, sorgum kurang populer dan pemanfaatannya masih belum optimal padahal sorgum memiliki berbagai keunggulan seperti katahanannya yang tinggi pada kondisi kering (Mudjsihono dan Suprapto, 1987), umur tanam yang pendek (1 00- I I0 hari), daya adaptasi terhadap lahan yang tinggi dan biaya produksi yang rendah (Wijaya, 1998 dalam Suarni, 2004). Selain itu, kandungan pati biji sorgum cukup tinggi, yaitu sekitar 83% (Mudjsihono dan Suprapto, 1987), sedangkan kadar lemak dan proteinnya sebesar 3.60% dan 12.3%. Pada beras, kandungan patinya sekitar 82 %, lemak 0.8 %, dan protein 6 % (Anonim, 2006). Hal tersebut menunjukkan bahwa komposisi ketiga zat gizi (protein, lemak, pati) pada sorgum setara dengan beras, bahkan lebih baik. Selain kandungan zat gizi yang setara dengan beras, sorgum juga mengandung berbagai zat lain yang berperan penting di dalam tubuh seperti phytosterol, antioksidan dan tanin.
Sorgum memiliki banyak potensi namun pemanfaatannya masih belum optimal. Oleh karena itu, pemberian masukan teknologi pada pemanfaatan sorgum dengan mengolahnya menjadi bubur instan, diharapkan bisa mengoptimalkan potensi sorgum dan meningkatkan prestisenya di mata masyarakat Indonesia. Selain itu, melalui penelitian ini juga diharapkan dapat dihasilkan bubur sorgum instan yang berindeks glisemik rendah dan bisa dijadikan sebagai pangan alternative pengganti beras yang murah bagi penderita diabetes.

1.2  Tujuan
Diharapkan didapatkan bubur sorgum instan berindeks glisemik rendah dengan komposisi yang tepat antara tepung sorgum matang dan nasi sorgum kering sehingga dapat dijadikan makanan alternatif murah bagi para penderita diabetes.










BAB II
ISI
2.1  Tinjauan Pustaka
2.1.1 Sorgum
a. Botani Sorgum
Sorgum (Shorghum bicolor (L.) Moench) merupakan tanaman yang termasuk di dalam famili Graminae bersama dengan padi, jagung, tebu, gandum, dan lain-lain. Shorghum bicolor (L.) Moench termasuk dalam genus Shorgum, ordo Cyperales, kelas Liliopsidal monokotiledon, divisi Magnoliophyta, superdivisi Spermafophyta, subkingdom Traechobionta, dan kingdom Plantae. Sorgum memiliki nama yang berbeda-beda tiap daerah. Sebagai contoh, sorgum dikenal dengan nama 'cantel' di Jawa Tengah dan Jawa Timur. 'jagung cantrik' di daerah Jawa Barat, dan 'batara tojeng' di Sulawesi Selatan (Suprapto dan Mudjisihene, 1987).
Sorgum memiliki banyak varietas, dari sorgum yang berwama putih sampai sorgum yang berwama merah kecoklatan (FSD, 2003). Tanaman sorgum dibagi dua kelompok, yaitu sorgum yang berumur pendek (musiman) dan sorgum tahunan (Shorgum halepensis). Sorgum musiman terdiri atas empat keluarga, yaitu sorgum makanan ternak (sweet sorghum) dimana batangnya mengandung gula sehingga dapat dipakai untuk membuat simp dengan cara memeras batangnya dan kemudian direbus, sorum penghasil bijibijian (grain sorghum) dimana batang dan daunnya dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak, sorgum sapu (broom sorghum) yang banyak ditanam di Amerika Serikat dan dapat dimanfaatkan untuk membuat sapu dan sikat, yang terakhir adalah sorgum rumput (grass shorgum) yang dikenal sebagi mmput sudan di indonesia yang tahan kekeringan. Sorgum tahunan tidak menghasilkan biji, namun dapat dimanfaatkan sebagai makanan ternak (Rismunandar, 1989).
Sorgum dapat tumbuh pada daerah tropis dan subtropis, dari dataran rendahsampai 700 meter diatas permukaan laut. Suhu optimum yang diperlukan untuk tumbuh berkisar antara 25-30°C dengan kelembapan relative 20-40%. Sorgum juga tidak terlalu peka terhadap pH tanah, untuk pertumbuhan yang optimum pH berkisar 5.5-7.5. Sorgum tumbuh baik di daerah kering disebabkan lapisan lilin yang ada pada permukaan daun sorgum. Lapisan lilin tersebut akan mengurangi penguapan air dari dalam sorgum. Selain itu, pada beberapa jenis sorgum juga ditemui ketahanan yang lebih tinggi terhadap burung din hama yang disebabkan kandungan tannin yang dimilikinya (Mudjisihono dan Suprapto, 1987).

b. Struktur Biji Sorgum
Biji sorgum berbentuk butiran dengan ukuran biji kira-kira 4.0 x 2.5 x3.5 mm3, berat biji sorgum berkisar antara 8-50 mg dengan rata-rata 28 mg. Berdasarkan bentuk dan ukurannya, sorgum dibedakan menjadi tiga golongan yaitu biji berukuran kecil (8-10 mg), sedang (12-24mg) dan besar (25-35mg). Biji sorgum di Pulau Jawa umumnya berukuran sedang dan besar. Biji sorgum' yang kulitnya benvarna putih umumnya diseb u t kafir dan benvarna merah atau coklat termasuk varietas Feterifcr (Mudjisohono dan Damardjati, 1985).
Pada umumnya biji sorgum berbentuk bulat lonjong atau bulat telur dan terdiri dari tiga bagian utama yaitu kulit luar, lembaga dan endosperma. Susunan dari bagian-bagian bijinya adalah kulit luar 7,9%, lembaga 9,8%, dan endosperma 82,3 % (Hoseney,l998). Biji sorgum berbentuk bulatan dengan ukuran panjang sekitar 4,O mm, lebar 3,s mm, dan tebal 2,s mrn. Besar biji sorgum bewariasi antara 8 sampai 50 mg dengan berat rata-rata sebesar 28 mg.
Kulit luar merupakan lapisan kulit biji yang mengelilingi endosperma. Menurut Mudjisihono dan Suprapto (1987), kulit luar ini terdiri dari tiga bagian epikarp, mesokarp, dan endocarp.  Epikarp tersusun atas dua sampai tiga lapisan sel memanjang, berbentuk segi empat, memiliki ketebalan tertentu, dan mengandung zat pigmen yang terdapat pada perikarp berwarna putih, kuning, jingga dan merah, dimana zat pigmen ini dapat masuk mengalir ke endosperm.
Lapisan tengah dari perikarp adalah mesokarp yang merupakan lapisan paling tebal dari ketiga lapisan yang menyusun perikarp. Sel mesokarp mengandung granula pati kecil yang berbentuk polygonal dan dapat dilihat di bawah sinar mikroskop. Sorgum merupakan satu-satunya serealia yang memiliki pati dengan mesokrap.
Biji sorgum terdiri dari 7,3 – 9,3 % kulit luar, 7,8 – 12,1 % lembaga, dan 80-84,6 % endosperm (Hubbaer, 1950). Kulit luar terdiri dari epikarp, mesokarp dan endocarp. Epikarp adalah bagian terluar yang tersusun atas dua atau tiga lapisan tengah dan cukup tebal, berbentuk tabung yang akan rusak selama proses penggilingan untuk menghilangkan kulit luar ( Rooney dan Miller, 1982 ). Di bawah lapisan terdapat lapisan kulit biji (testa) pada lapisan perikarp dan testa sering terdapat di bwah endocarp dan di sekel iling permukaan endosperm biji. Ketebalan lapisan testa bervariasi untuk setiap varietas, biasanya paling tebal terdapat pada puncak biji dan yang tertipis terdapat didekat lembaga. Ketebalan testa di puncak biji berkisar antara 100-140 mikron, dan paling tipis berukuran 10-30 mikon. Lapisan testa tidak berdinding sel, bersifat padat dan rapat , terdapat pada perikarp dan aleoron.
Lapisan aleoron atau bekatul terdapat di atas permukaan endosperm biji. Sel – sel aleoron tidak mengandung granula pati mengandung protein, lemak dengan kadar relative tinggi, sejumlah mineral dan vitamin yang larut air ( Rooney dan Miller, 1982 ) . Endosperm merupakan 81-84% dari biji sorgum, yang terdiri dari lapisan endosperm luar (peripherial endosperm) , lapisan endosperm (corneus endosperm) dan lapisan endosperm dalam (jioury endosperm) (Hubbard et al., 1950).

c.    Komposisi Kimia
Sorgum mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi terutama kandungan karbohidratnya.Biji sorgum mengandung tiga jenis karbohidrat yaitu, pati, gula terlarut, dan serat. Kandungan gula terlarut  pada sorgum terdiri dari sukrosa, glukosa, fruktosa dan maltosa.  Kandungan gula terlarut pada biji sorgum menurun pada saat pematangan fisiologis dan berkisar antara 2,2% - 3,8% (Kent dan Evers, 1994). Kandungan zat kimia sorgum dibandingkan dengan jenis-jenis serealia lain disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1.Komposisi Kimia Sorgum dan Jenis-jenis Serealia Lainnya
 Tiap 100 Gram Berat Yang Dapat Dimakan

Zat Gizi
Sorgum
Beras
Gandum
Jagung
Millet
Protein (g)
   10,40
    7,90
 11,60
     9,20
   11,80
Lemak (g)
    3,10
    2,70
   2,00
    4,60
     4,80
Kadar abu (g)
    1,60
    1,30
   1,60
   1,20
     2,20
Serat kasar (g)
    2,00
    1,00
    2,00
    2,80
     2,30
Karbohidrat (g)
  70,70
  76,00
  71,00
  73,00
   67,00
Kalori  (kcal)
329,00
362,00
348,00
358,00
363,00
Kalsium (mg)
  25,00
  33,00
  30,00
   26,00
  42,00
Fe (mg)
    5,40
    1,80
   3,50
     2,70
  11,00
Thiamin (mg)
    0,38
    0,41
   0,41
     0,38
   0,38
Riboflavin (mg)
    0,15
    0,04
   0,10
     0,20
   0,21
Niacin (mg)
    4,30
    4,30
   5,10
     3,60
   2,80

Jenis karbohidrat lain yang terdapat dalam sorgum adalah pati.  Kandungan pati bagian endosperma biji sorgum umumnya sekitar 83 %, dalam lembaga 13,4 %, dan dalam perikarp 34,6 %. Pati sorgum terdiri dari 70 % -80 % amilopektin dan 20%-30% amilosa.  Jenis sorgum beras (non waxy sorghum) dengan mempunyai  kandungan amilosa yaitu 21-28% dan jenis sorgum ketan (waxy sorghum) memiliki kadar amilosa sekitar 1-2% .
Kandungan protein endosperma, lembaga, dan perikarp sorgum adalah berturut-turut 80%, 16%, dan 3%.  Protein yang terdapat dalam sorgum  sebagian besar berupa kafirin (protein larut alkohol) dan glutelin.  Kafirin mengandung asam amino prolin, asam aspartat dan asam glutamat dan sedikit lisin.Kafirin terdapat dalam protein-bodies, jumlahnya meningkat seiring dengan peningkatan kandungan protein biji.Glutelin merupakan fraksi protein kedua terbesar dari protein biji sorgum.Glutelin memiliki berat molekul besar yang merupakan pembentuk struktur endosperma (matriks protein).  Protein lain yang terkandung dalam biji sorgum adalah albumin (protein larut air) dan globulin (protein larut garam).  Fraksi protein lembaga mengandung asam amino lisin paling tinggi (Rooney dan Saldivar, 2000).
Jenis asam amino lembaga terdiri dari 4,1 % lisin, 3,4 % threonin, 1,5 % metionin, dan 1,0 % sistein.  Asam-asam amino yang terdapat dalam endosperma adalah  1,1 % lisin, 2,8 % threonin, 1,0 % metionin dan 0,8 % sistein (Rooney dan Saldivar, 2000). Mutu protein biji sorgum hampir sama dengan beras, namun kandungan vitamin dan mineralnya lebih tinggi (Soeranto, 2005).
d.    Glatinisasi
Gelatinisasi merupakan fenomena pembentukan gel yang diawali dengan pembengkakan granula pati akibat penyerapan air. Bila pati mentah dimasukkan ke dalam air dingin, granula pati akan menyerap air dan mulai bengkak namun terbatas, sekitar 30% dari berat tepung. Proses pemanasan adonan tepung akan menyebabkan granula semakin membengkak karena penyerapan air semakin banyak. Suhu dimana pembengkakan maksimal disebut dengan suhu gelatinisasi. Selanjutnya pengembangan granula pati juga disebabkan masuknya air ke dalam granula dan terperangkap pada susunan molekul-molekul penyusun pati. Mekanisme pengembangan tersebut disebabkan karena molekul–molekul amilosa dan amilopektin secara fisik hanya dipertahankan oleh adanya ikatan hidrogen lemah. Atom hidrogen dari gugus hidroksil akan tertarik pada muatan negatif atom oksigen dari gugus hidroksil yang lain. Bila suhu suspensi naik, maka ikatan hidrogen makin lemah, sedangkan energi kinetik molekul-molekul air meningkat, memperlemah ikatan hidrogen antar molekul air. Tian et al., (1991) menyatakan bahwa bila pati dipanaskan dalam suhu kritikal dengan adanya air yang berlebih granula akan mengimbibisi air, membengkak dan beberapa pati akan terlarut dalam larutan yang ditandai dengan perubahan suspensi pati yang semula keruh menjadi bening dan tentunya akan berpengaruh terhadap kenaikan viskositas.

e.       Sifat birefringence
Sifat birefringence dari granula pati adalah sifat merefleksikan cahaya terpolarisasi sehingga di bawah mikroskop terlihat hitam-putih. Pada waktu granula mulai pecah sifat birefringence ini akan hilang. Kisaran suhu yang menyebabkan 90% butir pati dalam air panas membengkak sedemikian rupa sehingga tidak kembali ke bentuk normalnya disebut “Birefringence End Point Temperature” atau disingkat BEPT (Winarno, 1984). Secara mikroskopik terlihat bahwa granula pati dibentuk oleh molekul-molekul yang membentuk lapisan tipis yang tersusun terpusat. Granula pati bervariasi dalam bentuk dan ukuran, ada yang berbentuk bulat, oval, atau bentuk tak beraturan demikian juga ukurannya, mulai kurang dari 1 mikron sampai 150 mikron ini tergantung sumber patinya.

f.     Pangan Instan
Dewasa ini, banyak produk-produk pangan yang dipasarkan dalam bentuk makanan instan. Pengembangan produk pangan instan bertujuan memudahkan masyarakat saat mengkonsumsinya. Produk pangan instan sangat mudah disajikan dalam waktu yang relatif singkat. Pangan instan terdapat dalam bentuk kering atau konsentrat, mudah larut sehingga mudahuntuk disajikan yaitu hanya dengan menambahkan air panas atau air dingin. Produk pangan instan berkembang dengan pesat mengikuti perkembangan jaman dimana masyarakat menuntut produk pangan yang mudah dikonsumsi, bergizi, dan mudah dalam penyajiannya.
Pengertian pangan instan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(1989) berarti langsung atau tanpa dimasak lama, dapat dimakan atau dapat diminum. Istilah instanisasi telah mencakup berbagai perlakuan, baik kimiamaupun fisik yang akan memperbaiki karakteristik hidrasi dari suatu produk  pangan dalam bentuk bubuk (Johnson dan Peterson, 1971).
MenurutHartomo dan Widiatmoko (1992), pangan instan merupakan bahan makanan yang mengalami proses pengeringan air, sehingga mudah larut dan mudahdisajikan hanya dengan menambahkan air panas atau air dingin. Australian Academy Of Technological Sciences and Engineering (2000) memberikan definisi pangan instan sebagai produk pangan yang di dalam penyajiannya melibatkan pencampuran air atau susu dan dilanjutkan dengan berbagai proses pemasakan.
Ada beberapa kriteria bahan pangan yang harus dipenuhi dalam pembuatan produk pangan instan. Menurut Hartomo dan Widiatmoko (1992) kriteria yang harus dimiliki bahan makanan agar dapat dibentuk produk  pangan instan antara lain     : memiliki sifat hidrofilik, yaitu sifat mudahmengikat air,  tidak memiliki lapisan gel yang tidak permeabel sebelum digunakan yang dapat menghambat laju pembasahan, dan rehidrasi produk akhir tidak menghasilkan produk yang menggumpal dan mengendap.

g.    Bubur Instan
Istilah bubur instan lebih dikenal dengan sebutan pure (asal kata dari bahasa Inggris yakni puree). Pengertian pure berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989) adalah pangan atau bahan pangan yang dilembutkan. Bubur termasuk salah satu bentuk olahan pangan yang mudah dikonsumsi masyarakat. Bubur memiliki tekstur yang lunak sehingga mudah dicerna. Bubur tidak hanya terbuat dari beras saja namun dapat pula dibua tdari kacang hijau, beras merah, ataupun dari beberapa campuran penyusunnya.
Dalam pengolahannya, bubur dibuat dengan memasak bahan penyusun dengan air seperti bubur nasi, mencampurkan santan seperti bubur kacang hijau, ataupun dengan mencampurkan susu, yang dikenal dengan bubur susu. Perkembangan zaman menyebabkan masyarakat menuntut segala sesuatu yang serba cepat dan praktis. Demikian pula dalam hal makanan,masyarakat cenderung lebih menyukai produk pangan yang berbentuk instan. Bubur instan merupakan bubur yang telah mengalami proses pengolahan lebih lanjut sehingga dalam penyajiannya tidak diperlukan proses pemasakan. Penyajian bubur instan dapat dilakukan hanya dengan menambahkan air panas ataupun susu, sesuai dengan selera (Fellows danEllis, 1992).
Bubur instan memiliki komponen penyusun seperti halnya bubur.Bubur yang telah jadi (masak) mengalami proses instanisasi. Instanisasi dilakukan dengan cara memasak komponen-komponen penyusun bubur yang telah berbentuk tepung sampai menjadi adonan kental. Adonan inidikeringkan dengan menggunakan drum dryer  lalu dihancurkan hingga berbentuk tepung halus berukuran 60 mesh. Bahan tepung yang diperolehtelah bersifat instan dan dikemas menjadi bubur instan (Perdana, 2003)
h.    Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus, DM (bahasa Yunani: διαβαίνειν, diabaínein, tembus atau pancuran air) (bahasa Latin: mellitus, rasa manis) yang juga dikenal di Indonesia dengan istilah penyakit kencing gula adalah kelainan metabolis yang disebabkan oleh banyak faktor, dengan simtoma berupa hiperglisemia kronis dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, sebagai akibat dari: sekresi hormon insulin, aktivitas insulin, atau keduanya, transporter glukosa. atau keduanya.
2.2 Teknik Pengolahan Bubur Sorgum Instan
2.2.1 Pembuatan Beras Sorgum Bersih
Beras sorgum adalah sorgum giling dengan ukuran partikel lebih kecil dibandingkan dengan biji sorgum utuh. Ukuran partikel sorgum giling hampr menyerupai ukuran  beras nasi, oleh sebab itu sorgum giling yang dihasilkan diberi nama beras sorgum.
2.2.2. Pembuatan Tepung Sorgum Matang
Tepung sorgum merupakan partikel sorgum yang lolos ayakan 60 mesh. Tepung sorgum matang dibuat dengan menggunakan bahan baku dasar beras sorgum. Beras sorgum direbus bersama air dengan perbandingan air dan beras 2:5. Perebusan dilakukan sampai terbentuk bubur yang ditandai dengan adonan kental, air perebusan berkurang, dan terbentuk warna adonan yang jernih (melawati suhu gelatinisasi). Adonan bubur yang terbentuk dikeringkan dengan menggunakan drum dryer. Hasil pengeringan drum dryer adalah lembaran tipis yang selanjutnya dihancurkan dengan blender kering. Hancuran lembaran akan berbentuk  butiran-butiran tipis. Butiran halus tersebut disaring dengan menggunakan sarin gan berukuran 60 mesh. Butiran yang lolos ayakan merupakan tepung sorgum matang.
2.2.3 Pembuatan Nasi Sorgum Kering
Pembuatan nasi sorgum kering dilakukan dengan menggunakan metode pembuatan bubur nasi kering. Bahan dasar dalam pembuatan nasi sorgum kering adalah beras sorgum. Beras sorgum direbus dengan air (perbandingan air dan beras sorgum 2:5) sampai terbentuk bubur yang ditandai dengan terbentuknya adonan kental, jumlah air rebusan yang berkuangatau habis, dan terbentuknya warna adonan yang jernih (melewati suhu glatinisasi).
2.2.4 Pembuatan Formulasi Bubur Sorgum
Formulasi I tersusun atas tepung sorgum matang dan nasi sorgum kering dengan perbandingan 10 : 2 . Nasi Sorgum kering dicampurkan dengan tepung sorgum matang diaduk rata dan ditambahkan air panas.
2.3 Hasil dan Pembahasan
Bubur sorgum Instan adalah bubur yang memiliki komponen penyusun bubur yang bersifat instan. Sehingga dalam penyajiannya tidak diperlukan proses pemasakan. Penyajian bubur instan sorgum ini dapat dilakukan dengan menambah air panas ataupun susu, sesuai dengan selera. Bahan dasar yang digunakan adalah sorgum bicolor galur B-76.
            Sorgum dipilih sebagai bahan baku karena beberapa alasan. Pertama, sorgum merupakan serealia yang memiliki kandungan gizi yang tidak kalah dengan serealia lainnya. Kedua, tepung sorgum ini dapat menjadi bahan baku srbaguna karaena tidak terjadi penggumpalan (terglatinisasi) pada saat mengalami pemanasan. Ketiga, sorgum merupakan bahan pangan alternatif bagi penderita diabetes.















BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
·         Tanaman sorgum merupakan komoditas yang belum dimanfaatkan secara optimal karena keterbatasan teknologi pengolahannya.
·         Bubur sorgum dapat dijadikan alternatif dalam diversifikasi pangan di Indonesia dan dapat dijadikan bahan pangan bagi penderita diabetes
·         Bubur ini terdiri dari sorgum matang dan nasi sorgum kering
3.2 Saran
Agar teknik pengolahan bubur sorgum instan ini dapat diterapkan pada bahan pangan seralia lain.





















DAFTAR PUSTAKA
·         Nanda Haditama, dkk. Laporan akhir Program Kreatifitas Mahasiswa Institut Pertanian Bogor, 2008
·         http://id.wikipedia.org/wiki/Indeks_Glikemik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar