Limbah Mie Instant Perlu Perhatian
Oleh :
Syarifah Habibah Soraya assegaf
Teknologi Industri Pertanian
Politeknik Tanah Laut
Dosen Pembimbing :
Jaka Darma Jaya
Dosen Pembimbing :
Jaka Darma Jaya
I. PENDAHULUAN
Mie adalah sejenis bahan makanan yang
bahan baku utamanya adalah tepung terigu. Mie merupakan makanan pengganti nasi
yang disukai hampir disemua kalangan. Ada tiga jenis mie, mie basah, mie kering
dan mie instan.Salah satu mie yang banyak dikonsumsi di Indonesia adalah mie
instan. Mie instan adalah mie yang dibuat dari terigu sebagai bahan utama
dengan atau tanpa penambahan bahan lainnya. Mie instan dicirikan dengan adanya
penambahan bumbu dan memerlukan proses rehidrasi untuk dikonsumsi. Mie instan sengaja
dibuat untuk memanjakan konsumennya agar mudah dan praktis dalam dikonsumsi.
Meningkatnya permintaan mie instan di pasaran
menjadikan Indonesia sebagai produsen penghasil mie terbesar di
Dunia.Permintaan yang meningkat ini berbanding lurus dengan menjamurnya
kegiatan industri mie di Indonesia. Keberadaan Industri mie memberikan dampak
positif dan negatif, dampak positifnya adalah pada sistem perekonomian, bahwa
industri mie dapat meningkatkan devisa Negara dan membuka lapangan pekerjaan,
sedangkan dampak negatifnya adalah dari penurunan kualitas lingkungan yang
disebabkan oleh limbah hasil industri mie pada saat proses produksi yang dapat
mencemari lingkungan.
Proses pembuatan mie instan terdiri dari beberapa
proses, yang pada masing-masing prosesnya berpotensi menghasilkan limbah.
1. Poses
Pertama adalah proses mixing,
dilakukan pencampuran semua bahan baku yang digunakan. Tahap pencampuran ini
bertujuan agar perpaduan antara tepung dan air berlangsung secara merata. Untuk
mendapatkan adonan yang baik, kadar airnya harus diperhatikan, yaitu berkisar
32-34%.
2. Proses
kedua adalah Pembentukan Mie (Roll Press), Roll Press adalah
mesin produksi yang terdiri dari 3 buah unit, yaitu unit pressing
(penggilingan),slitter dan unit wave conveyor. Unit pressing berfungsi
membentuk lembaran adonan mie sampai ketebalan tertentu. Unit slitter berfungsi
seperti pisau yang akan memotong lembaran mie secara membujur menjadi untaian
mie. Terakhir adalah unit wave conveyor yang akan membentuk untaian mie menjadi
bergelombang/keriting. Untaian mie tersebut kemudian masuk ke dalam steam box
untuk proses lebih lanjut.
3. Proses ketiga yaitu Pematangan Mie (Steaming), Steaming
adalah proses pematangan mie dengan menggunakan steam basah atau biasa disebut
proses pengukusan. Pada proses ini mie mengalami perubahan fisik di mana adonan
mie berubah menjadi keras dan kuat.
4. Proses keempat adalah Penggorengan (Frying), Pada tahap ini
untaian panjang mie dipotong dan didistribusikan ke dalam cetakan. Kemudian mie
digoreng pada suhu 140ºC hingga 150ºC selama 60 sampai 120 detik. Tahap ini
bertujuan agar dehidrasi atau proses pengurangan kadar air mie menjadi sempurna
(sekitar 3-5%). Suhu minyak yang tinggi membuat air menguap dengan cepat dan
menghasilkan pori-pori halus di permukaan mie.
5.
Pendinginan (Cooling Box), Mie hasil
penggorengan kemudian didinginkan di dalam lorong pendinginan (Cooling box) yang dilengkapi fan. Mie
lalu ditiriskan dengan suhu 40ºC dengan menggunakan fan yang berputar cepat di
atas ban berjalan. Proses tersebut bertujuan agar minyak memadat dan menempel
pada mie. Selain itu, tekstur mie menjadi keras. Pendinginan harus dilakukan
dengan sempurna, karena jika uap berkondensasi akan menyebabkan tumbuhnya
jamur.
6.
Pengemasan (Packing), Proses terakhir
dalam pembuatan mie adalah pengemasan (Packing).
Berdasarkan SNI 01-3551- 2000, mie instan (harus) dikemas dalam wadahyang
tertutup rapat, tidak dipengaruhi atau mempengaruhi isi, aman selamamasa
penyimpanan dan distribusi.
Proses pembuatan mie instan terdiri dari tahap
pencampuran (mixing), Pembentukan mie
(roll pressing), pematangan mie (steaming), penggorengan (frying), pendinginan (cooling box), dan pengemasan (packing) ini akan menghasilkan limbah
dalam jumlah besar yang akan berdampak negatif bagi lingkungan, Dampak negatif
inilah yang harus diperhatikan oleh setiap industri mie instant. Setiap
industri mie harus meminimalisasi tingkat pencemaran yang terjadi, dengan pengelolaan
dan pengolahan limbah yang baik serta pemantauan dampak limbah terhadap lingkungan,
yaitu dengan cara penyusunan dokumen UKL/UPL (Upaya Kelola Lingkungan dan Upaya
Pemantauan Lingkungan).
II.
KARAKTERISTIK LIMBAH
Limbah
yang dihasilkan dari industri mie adalah limbah gas, limbah cair serta limbah padat.
a. Limbah
Gas
Limbah gas berasal dari asap pabrik yang
ditimbulkan oleh proses produksi yang ada di dalam ruangan (ruang produksi) dan
di luar ruangan (cerobong boiler). Limbah gas ini sangat berbahaya apabila
sampai terhirup oleh manusia dan mencemari
udara. Jika terhirup oleh manuasia akan mengganggu kesehatan pada
peredaran darah dan saluran pernafasan.
b. Limbah cair
Limbah
cair industri mie instan dihasilkan oleh mesin proses produksi yaitu boiler dan
cleaning, dan limbah yang dihasilkan dari penggorengan berupa minyak goreng
kotor/bekas. Hasil buangan ini tidak beracun, namun kadar BOD dan COD yang
terkandung dalam air menjadi berkurang dan menebabkan penurunan kualitas air.
Limbah cair mie instant terdiri dari
limbah cair organic berbasis bahan baku olahan dari pertanian, seperti tepung
terigu(mengandung karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral) dan minyak kelapa
(mengandung asam lemak diantaranya laurat, palmitat, dan oleat) yang terlarut
dalam air limbah.
c. Limbah
padat
Limbah
padat dari mie instan tidak berbahaya, namun banyak bahan yang sulit terurai
dilingkungan terutama plastik yang dihasilkan dalam jumlah yang cukup besar
seperti kemasan bahan baku dan bahan penolong,afkir kemasan produk dan limbah
domestik, selain plastik limbah padat yang dihasilkan juga seperti potongan
adonan, mie yang kadaluarsa.
III.
PENGOLAHAN LIMBAH
Dalam
rangka mengatasi permasalahan limbah cair di industri mie instant, salah satu
perusahaan di Indonesia menerapkan sistem IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah).Sistem
IPAL belum sepenuhnya dapat mengatasi pencemaran air, karena air dari IPAL
hanya digunakan untuk menyiram tanaman disekitar pabrik. Padahal limbah
industri mie masih harus diubah karakteristiknya sebelum dibuang kelingkungan
karena belum memenuhi baku mutu yang ditetapkan oleh pemerintah.
Tabel
1. effluent sesuai dengan baku mutu Kepmen LH no 51 Tahun 1995
NO
|
PARAMETER
|
SATUAN
|
KADAR
|
BAKU MUTU
|
1
|
Ph
|
-
|
5-5,8
|
6-9
|
2
|
BOD
|
Mg/L
|
5700-7300
|
75
|
3
|
COD
|
Mg/L
|
7000-10000
|
200
|
4
|
PADATAN
TERSUSPENSI
|
Mg/L
|
9440-10.280
|
100
|
5
|
MINYAK LEMAK
|
Mg/L
|
2
|
20
|
Pada sebuah penelitian yang
dilakukan oleh Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru yang tergabung dari
berbagai fakultas, mereka melakukan penelitian pada limbah cair industri mie instant
metode bak aerasi seed sludge.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut
menyebutkan, bahwa jumlah urea yang ditambahkan dalam metode seed sludge
berpengaruh terhadap penurunan kadar BOD dalam limbah cair mie instant.
Konsentrasi urea optimum pada pembuatan seed sludge yaitu sebesar
0,14 M, hasilnya bias dilihat
setelah tiga hari dengan penurunan sekitar nilai MLSS sebesar 2528,8 mg/l dan SV30 sebesar 60,5 % sedangkan nilai BOD3 sebesar 241,92 mg/l, DO
sebesar 7,7027 mg/l.
Limbah padat diatasi dengan cara
pemilihan jenis limbah, yaitu limbah plastik dan limbah yang mudah terurai.
Limbah plastik diserahkan kepada tempat pembuangan sampah untuk dikelola
menjadi plastik, sedangkan limbah ang mudah terurai seperti potongan mie, dan
mie yang kadaluarsa diserahkan ke pihak ketiga yaitu ke pengolahan pakan
ternak.
Limbah udara dapat diminimalkan dengan
selalu mengecek emisi buangan dari pabrik dengan perawatan secara berkala dan
pengecekan uji emisi gas buang, agar gas buang dari pabrik tidak melewati baku
mutu yang berlaku.
IV.
POTENSI LIMBAH
Limbah padat dari industri mie
instan seperti plastik dapat dimanfaatkan untuk diolah kembali menjadi plastik,
dan dibuat kerajinan tangan.sedangkan potongan mie serta mie kadaluarsa dapat
dimanfaatkan sebagai pakan ikan. Limbah potongan-potongan mie ini memiliki
kandungan sama dengan pakan ikan yaitu banyak mengandung karbohidrat, maka dari
itu limbah indusrti mie instan perlu dimanfaatkan untuk pembuatan pakan ikan.
Selain itu, Nilai nutrisi yang terkandung dalam limbah industr ini adalah
kandungan lemaknya.Lemak dalam limbah mie instan biasanya berasal dari minyak
kelapa sawit, yang diduga memiliki FFA rendah, karena untuk konsumsi
manusia.Keunggulan limbah industri mie dibandingkan dedak padi adalah kandungan
serat kasarnya.Kandungan asam amino limbah industri mie instan juga tidak jauh
berbeda dengan asam amino dalam terigu, sehingga diharapkan dapat digunakan
dalam pakan ikan sebanyak 10 -15%, atau menggantikan tepung terigu. Selain pakan ikan, limbah padat mie instant
ini juga disarankan untuk pakan ternak, namun penggunaan limbah mie instant
melebihi 30% dapat berpengaruh terhadap berat karkas (berat ternak setelah
dipotong) dari ternak
Limbah cair dari industri mie instan
dimanfaatkan untuk menyiram tanaman apabila kualitasnya sudah diperbaiki.Selain
itu, Dapat pula dijadikan sebagai bahan baku pengolahan sabun, karena
karakteristik limbah cair mie yang mengandung 55% minyak. Pembuatan sabun dari
limbah cair ini sama dengan pembuatan sabun dari minyak-minyak lainnya, dengan
penambahan kaustik soda dengan perbandingan 1;5 maka akan terbentuk sabun
dengan dua bentuk fisik yang berbeda warna

Artikel yang sangat bagus, saya suka dengan artikel ini, ingin tahu tentang produk kemasan makanan yang ramah lingkungan silahkan lihat disini http://greenpack.co.id/
BalasHapusPesen mie afkir bgmn sy butuh bnyk
BalasHapusMenjual berbagai macam jenis Chemical untuk Boiler, cooling tower chiller,dan waste water treatment ,STP dll untuk info lebih lanjut tentang produk ini bisa menghubungi saya di email tommy.transcal@gmail.com terima kasih
BalasHapusWA 081310849918
Menjual berbagai macam jenis Chemical untuk Boiler, cooling tower chiller,dan waste water treatment ,STP dll untuk info lebih lanjut tentang produk ini bisa menghubungi saya di email tommy.transcal@gmail.com terima kasih
BalasHapusWA 081310849918