LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGILEGUM DAN SEREALIA
Disusun Oleh :
Syarifah Habibah Soraya Assegaf
Pembimbing :
Erfanur Adhlani, S.Si,.MP
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
POLITEKNIK TANAH LAUT
PELAIHARI
2012
PERCOBAAN
III
ISOLASI
PROTEIN PADA SEREALIA
(JAGUNG)
I.
Tujuan Praktikum
Praktikum ini
dilakukan bertujuan untuk mempelajari
cara mengisolasi protein dari serealia.
II.
Dasar Teori
2.1
Protein
Protein merupakan suatu senyawa
makro-molekul yang terdiri atas sejumlah asam amino yang dihubungkan dengan
ikatan peptida. Jika ikatan peptida tersebut terjadi dari dua asam amino
hasilnya disebut sebagai dipeptida dan jika dari tiga, empat, atau lima peptida
hasilnya dikatakan sebagai tripeptida, peptapeptida dan penta peptida. Jika
ikatan peptida tersebut lebih dari dua ikatan maka secara umum dapat dinamakan
sebagai polipeptida. Atas dasar susunan asam amino serta ikatan-ikatan yang
terjadi antara asam amino dalam suatu molekul protein, dibedakan menjadi 4
macam struktur protein yaitu struktur primer, struktur sekunder, struktur
tersier dan struktur quarter. Protein sering mengalami perubahan sifat setelah
mengalami perlakuan tertentu, meskipun sangat sedikit ataupun ringan dan belum
menyebabkan terjadinya pemecahan ikatan kovalen atau peptida, perubahan inilah
yang dinamakan dengan denaturasi protein. Denaturasi protein dapat terjadi
dengan berbagai macam perlakuan, antara lain dengan perlakuan panas, pH, garam
dan tegangan permukaan. Laju denaturasi protein dapat mencapai 600 kali untuk
tiap kenaikan 10C. Suhu terjadinya denaturasi sebagian besar protein terjadi
berkisar antara 55 – 75C. Pada protein yang mengalami denaturasi proteinnya
akan mengendap karena gugus-gugus yang bermuatan positif dan negatif dalam
jumlah yang sama atau netral atau dalam keadaan titik isoelektrik. Pada
denaturasi terjadi pemutusan ikatan hidrogen, interaksi hidrofobik dan ikatan
garam hingga molekul protein tidak punya lipatan lagi. Garam-garam seperti
misalnya natrium klorida dalam konsentrasi tertentu dapat menyebabkan
denaturasi atau koagulasi. (Anonim,2009)
Pada beras, protein merupakan
penyusun kedua setelah pati. Kandungan protein pada beras pecah kulit sekitar 8
persen dan pada beras giling sekitar 7 persen. Protein beras ini dianggap tertinggi mutunya
diantara protein-protein serealia lainnya. Hal ini dikarenakan protein beras mengandung
lisinnya yang relatif tinggi yaitu kurang lebih 4 persen. Pada protein beras
umumnya dikelompokkan menjadi 4 fraksi yaitu : albumin, globulin, prolamin dan
glutein. Distribusi protein ini akan merata dengan meningkatnya kadar protein
beras. Dari 24 contoh beras giling varietas beras padi di Indonesia, padi bulu
( Japonika ) mempunyai rata-rata kadar protein lebih rendah ( 7,7 persen ),
dibanding dengan padi indica ( 8,5 persen ). (Winarno, 2002)
2.2. Kandungan Jagung
Biji jagung
kaya akan karbohidrat. Sebagian besar berada pada endospermium. Kandungan
karbohidrat dapat mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji. Karbohidrat
dalam bentuk pati umumnya berupa campuran amilosa dan amilopektin. Pada jagung
ketan, sebagian besar atau seluruh patinya merupakan amilopektin. Perbedaan ini
tidak banyak berpengaruh pada kandungan gizi, tetapi lebih berarti dalam
pengolahan sebagai bahan pangan. Jagung manis diketahui mengandung amilopektin
lebih rendah tetapi mengalami peningkatan fitoglikogen dan sukrosa.
Kandungan
gizi Jagung per 100 gram bahan adalah:
- Kalori : 355 Kalori
- Protein : 9,2 gr
- Lemak : 3,9 gr
- Karbohidrat : 73,7 gr
- Kalsium : 10 mg
- Fosfor : 256 mg
- Ferrum : 2,4 mg
- Vitamin A : 510 SI
- Vitamin B1 : 0,38 mg
- Air : 12 gr
Dan bagian yang dapat dimakan
90 %. Untuk ukuran yang sama, meski jagung mempunyai kandungan karbohidrat
yang lebih rendah, namum mempunyai kandungan protein yang lebih banyak.( Anonim,
2009)
III.
Metode
Praktikum
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum mata kuliah Teknologi Legum dan Serealia tentang isolasi protein pada serealia dilaksanakan
pada pukul 10.00-12.00 pada tanggal 19 Maret 2012.Bertempat di Laboratorium
Teknologi Industri Pertanian Politeknik Tanah laut.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah pisau, gelas arloji,
Erlenmeyer, gelas beaker, alumunium foil,pipet tetes, penangas air, kertas
saring, corong, kain,mortil dan timbangan. Sedangkan bahan yang digunakan pada
praktikum ini adalah jagung, KOH 5 % , HCl 6N, dan aquadest
3.3 Prosedur Kerja
1. Sampel
dihaluskan dengan penggerus
2. Timbang
sampel (Jagung) sebanyak 5 gr kemudian masukkan kedalam Erlenmeyer 250ml
3. Tambahkan
30ml aquadest dan 15ml KOH
4. Tutup
Erlenmeyer dengan alumunium foil dan kocok selama 40 menit
5. Saring
larutan dengan kain, tambahkan filtar tetes demi tetes sebanyak 5ml HCl 6N
kemudian panaskan hingga suhunya 40C
6. Saring
endapan dengan kertas saring kemudian keringkan endapan untuk menghilangkan
kadar air
7. Timbang
berat endapan
IV.
Hasil Dan Pembahasan
4.1 Hasil
Tabel.1
Hasil Endapan Protein Jagung
NO
|
Hasil
pengamatan
|
||
1.
|
Kertas
Kering
|
Kertas
Endapan
|
Hasil
Endapan
|
1,45gr
|
1,84gr
|
0,39gr
|
|
Tabel 2. Perbandingan Hasil Endapan
dengan Sampel lain
NO
|
Sampel
|
Berat Endapan
|
1.
|
Jagung 1
|
0,39 gr
|
2.
|
Jagung 2
|
0,72 gr
|
3.
|
Beras 1
|
2,98 gr
|
4.
|
Beras 2
|
5,21 gr
|
4.2 Pembahasan
Dari paraktikum isolasi
protein pada serealia khususnya jagung dan beras dapat dilihat perbedaan hasil
berat endapan protein yang sangat jauh. Jagung cendrung memiliki kadar protein
yang lebih rendah dibandingkan beras, kandunga protein beras berkisar antara
17,90 gr, sedangkan jagung hanya 9,2gr. Pada beras, protein merupakan
penyusun kedua setelah pati. Kandungan protein pada beras pecah kulit sekitar 8
persen dan pada beras giling sekitar 7 persen. Protein beras ini dianggap tertinggi mutunya
diantara protein-protein serealia lainnya. Hal ini dikarenakan protein beras mengandung
lisinnya yang relatif tinggi yaitu kurang lebih 4 persen. Inii lah yang menyebabkan terjadinya
perbedaan berat endapan.
Penambahan KOH dalam
praktikum ini adalah untuk membuat suasana basa dalam larutan agar mudah saat
isolasi protein, sedangkan HCl dan pemanasan berfungsi untuk mendapatkan
PH yang sesuai yaitu PH isolistrik 4,55-4,95.
Muatan gugus amino dan karboksil bebas akan saling menetralkan pada pH
isolistrik sehingga molekul bermuatan nol dan mudah diendapkan (Winarno 2002).
Ketika dipanaskan, kelarutan protein akan berkurang karena pada temperature
tinggi energy kinetic protein meningkat dan terjadi getaran yang cukup kuat
untuk merusak ikatan atau interaksi rantai samping pada struktur tertier dan
kuar tener yang menyebabkan koagulasi. Hasil uji koagulasi protein menunjukkan bahwa endapan tidak larut
air yang berarti protein telah terdenaturasi oleh pemanasan yang dilakukan.
V. Penutup
5.1 Kesimpulan
·
Protein merupakan suatu senyawa
makro-molekul yang terdiri atas sejumlah asam amino yang dihubungkan dengan
ikatan peptida.
·
Protein Beras lebih besar
dibandingkan protein Jagung
5.2 Saran
·
Untuk
Laporan praktikum dibuat bentuk file saja, agar menghemat penggunaan kertas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar